Kamis, 16 September 2010

surat cinta dari rina

BANDUNG 13 APRIL 2004

greeting sweet

hi how are you today? thank to almighty allah is you fine and here i fell good too.
i'm so sorry because yesterday i had make you sad
i'm sorry please, i hope you can know me like that i feel not good to receive goods from you because you are so fine to me.
i hope you not angry and i hope you don't sad because i can be use or eat food from you thank so much
and thank for love, for your care and for your pitty me may you can find your true love, my be i not your choose and my be you can find perfect girl than me, be cause i not perfect
i have to go to the office new i'm sorry i hed make guilty for you
bye... my you have i nice day, i believe you understand your

swety rina pretty girl





BANDUNG 13 April 2004

salam manis

hi bagaimana kabarmu hari ini? berterima kasih kepada allah SWT adalah Anda baik-baik saja dan di sini saya jatuh baik juga.
Aku minta maaf karena saya kemarin telah membuat Anda sedih
Aku mohon maaf tolong, saya berharap Anda dapat mengenal saya seperti itu saya merasa tidak baik untuk menerima barang dari Anda karena Anda begitu baik kepada saya.
saya harap Anda tidak marah dan saya harap Anda jangan sedih karena saya dapat menggunakan atau makan makanan dari Anda terima kasih banyak
dan terima kasih untuk cinta, untuk perawatan Anda dan untuk ombak Anda saya mungkin Anda dapat menemukan cinta sejati Anda, saya akan saya tidak Anda memilih dan saya akan Anda dapat menemukan gadis yang sempurna dari saya, menjadi penyebabnya aku tak sempurna
saya harus pergi ke kantor baru aku tidur membuat saya menyesal bersalah untuk Anda
bye ... Anda saya memiliki hari saya menyenangkan, saya percaya Anda memahami Anda

rina swety gadis cantik


Selasa, 02 Februari 2010

ALAMAT WEB CERITA

http://ceritadewasaseks.com/tag/cerita-seks-abg-toket-gede

http://ceritaseksku.co.cc/tag/seks-abg/

http://ceritaseks.ngocok.info/daun-muda/cerita-ngeseks-dengan-abg-perawan/

http://17tahun1.blogspot.com/2009/10/dian-kembang-smu-anak-tetanggaku.html

http://botmirc.blogspot.com/


Minggu, 31 Januari 2010

Petualang Akhir Pekan

Aku seorang lajang dan bekerja sebagai asisten manager pada sebuah perusahaan swasta. Aku mempunyai pengalaman menarik pada saat aku sedang berakhir pekan di Anyer, Banten beberapa waktu lalu. Biasanya akhir pekan kuhabiskan dengan clubbing dengan teman-temanku. Tapi kali ini aku ingin sendirian menikmati hari libur yang hanya singkat itu. Nah, sewaktu disana aku ceroboh saat bermain di pinggir pantai hingga hp kesayanganku nyemplung di air laut hingga mati total. Gara-gara itulah aku mendapatkan pengalaman menyenangkan yang tak terduga.Singkat cerita esoknya hari Sabtu aku jalan-jalan menuju pusat perbelanjaan yang berada di pusat kota Cilegon untuk membeli pengganti ponselku yang rusak. Sesampainya disana aku langsung menuju ke lantai atas yang merupakan lokasi pusat perdagangan hp disana. Setelah cari merek dan model terbaru yang memang sudah kuincar dari kemarin akhirnya kudapatkan di salah satu gerai yang cukup besar disitu. Sambil duduk, kucoba-coba fitur yang ada pada ponsel yang baru kubeli. Saat asyik mengutak-utik barang baru tersebut, sales gerai yang berada dihadapanku sekonyong-konyong berucap,

”Cari apa mbak?”.

Refleks kepalaku menoleh samping. Sosok yang disapa tadi berdiri disamping agak kebelakang. Seorang gadis berseragam hem putih lengan panjang dengan rok abu-abu panjang semata kaki mengenakan jilbab putih. Yang disapa hanya menjawab,

”Ah, nggak mbak. Cuma lihat-lihat”, sambil tersenyum kecut.

Sekilas dari pengamatanku sosok gadis tersebut mempunyai tinggi 160cm dan berwajah cukup manis dan cantik. Sepertinya ia tertarik pada ponsel yang baru kubeli ini. Aku tahu itu karena pada saat melihatnya, dia seperti sedang berdiri memperhatikan hp yang sedang kuutak-utik.

Tak lama kemudian gadis itu beranjak pergi. Entah kenapa aku jadi ingin melihat sosoknya sekali lagi. Sambil bergaya seperti hendak menelpon dengan hp baru, kutolehkan kepalaku sedikit.

“Wah! Boleh juga nih cewek”, ujarku dalam hati.

Walau siswi itu berbusana serba tertutup namun karena seragam yang ia kenakan itu nampak ketat membalut maka setiap lekuk tubuhnya nampak jelas terpampang. Pinggulnya ramping sedangkan pantatnya bulat dan sekal. Pikiran nakalpun mulai singgah di kepalaku membangkitkan libidoku. Sekalian ingin mencoba kemampuan hp baru, kuarahkan kameranya untuk memotret siswi itu walau hanya nampak dari belakang. Pertama aku potret seluruh badan dan yang kedua sengaja aku zoom bagian pinggul dan pantatnya.

“Wow, bohai bener nih pantat! Garis cd-nya aja keliatan”, ujarku dalam hati begitu melihat hasil jepretan kamera ponsel.

Setelah beres urusan hp, aku segera menuju food court yang ada di lantai bawah untuk makan siang. Sambil menunggu makanan yang kupesan datang iseng kubuka lagi file foto yang kujepret tadi. Melihat foto itu fantasi liarku mulai melayang jauh. Entah kenapa baru kali ini aku merasa begitu terangsang oleh penampilannya. Padahal selama ini aku biasa-biasa saja melihat setiap gadis berjilbab. Mungkin selama ini aku tidak menyadari seperti ada daya tarik tertentu dari wanita yang berpakaian seperti itu. Kubayangkan diriku sedang leluasa menjamah dan menikmati tubuh siswi berjilbab itu. Lagi asyik-asyiknya aku melamun, pelayan food court yang mengantarkan makan siangku membuyarkan itu semua. Buru-buru kusimpan ponselnya ke saku celana.

Baru saja mau makan, tiba-tiba mataku menangkap sosok yang kubayangkan tadi berada tidak jauh dari tempatku duduk. Nampaknya ia sedang asyik melihat-lihat pernak-pernik dan aksesori perhiasan yang berada di counter dekat food court ini. Segala gerak-gerik gadis itu tak lepas dari pengamatanku. Saat tubuhnya berbalik hendak beranjak meninggalkan gerai tersebut, tiba-tiba pandangannya beradu dengan tatapanku. Nampaknya ia sedikit kaget melihat keberadaanku. Seakan malu melihatku, kepalanya langsung ditundukkan menghindari tatapanku. Tapi seakan penasaran tidak yakin yang dilihatnya itu aku, sekali lagi ia menoleh sedikit kearahku. Kulemparkan senyumku sambil melambaikan tangan kearahnya seakan menggoda sikapnya yang malu-malu kucing. Gadis itu seakan menjadi kikuk atas sikapku kepadanya. Ia hanya tersenyum malu lalu menundukkan pandangannya ke bawah seakan tidak berani beradu pandang denganku. Beberapa saat ia hanya berdiam disitu sambil kepalanya celingak-celinguk seakan takut ada yang mengenalinya berada disekitarnya.

Perlahan aku bangkit dari duduk dan kuhampiri dia. Siswi berjilbab itu kulihat semakin salah tingkah dan grogi ketika aku mulai mendekat.

“Halo dik, ketemu lagi kita disini. Lagi ngapain? Mau belanja asesoris?”, sapaku.

Yang disapa hanya tersenyum simpul dengan kepala sedikit tertunduk malu sedangkan tangannya memegang erat tas ransel dipunggungnya. Perlahan dengan suara pelan ia menjawab,

“Ah, nggak om cuman liat-liat aja koq”, dengan pandangan menunduk ke bawah.

Lalu dengan segala keramahan kucoba mengajaknya makan siang bersamaku. Mula-mula ia tampak sedikit ragu atas ajakanku. Tapi akhirnya dengan sedikit bujuk rayuku ia mau juga.

Setelah berbasa-basi, kami berkenalan. Namanya Erni Widyaningsih berumur 16 tahun duduk di kelas 2 salah satu SMK swasta disana. Setelah itu kami lanjutkan perkenalan ini dengan santap siang. Disini mengalir bermacam-macam obrolan mulai dari dirinya sampai unek-unek dan permasalahan yang ia hadapi saat ini. Dia adalah anak pertama dari 4 bersaudara. Bapaknya pegawai honorer pemda sedangkan untuk membantu menambah penghasilan keluarga ibunya bekerja sebagai karyawan sebuah toko. Erni sengaja masuk SMK (SMEA) karena begitu lulus ingin bisa langsung kerja membantu orang tuanya. Namun keinginannya itu bisa kandas ditengah jalan karena sekarang keuangan orangtuanya yang sedang sulit sehingga ia masih menunggak SPP. Sedangkan teguran dari sekolah hampir tiap hari diterimanya.

Bahkan hari ini ia dipaksa pulang lebih awal dari sekolah karena masih belum bayar. Yang membuatnya sakit hati yaitu sikap beberapa teman kelasnya yang terus mengejek dan menyindir keadaan sulit yang sedang dialaminya. Dia merasa heran dan bingung karena beberapa siswi yang suka mengejeknya justru berkeadaan sama dengan dirinya. Meskipun begitu penampilan mereka justru layaknya seperti orang yang berkecukupan. Mulai dari tas, sepatu bahkan hp bagus mereka punya. Di depan Erni mereka selalu bergaya memamerkan barang-barang tersebut. Terus terang terkadang ia merasa iri dengan mereka.

Sampai disitu, kutanyakan padanya apakah dia tahu bagaimana teman-temannya itu mampu membeli barang-barang tersebut. Mendengar pertanyaanku itu sejenak ia diam sambil menunduk seakan tahu tapi malu menjawabnya. Setelah kudesak secara halus akhirnya keluar pengakuan bahwa ia pernah mendengar kabar bahwa teman-temannya itu menjual diri demi mendapatkan materi. Mulanya ia tidak mempercayainya tapi kemudian secara tidak sengaja ia memergoki salah seorang rekannya itu sedang digaet pria berumur sewaktu pulang sekolah. Mendengar pengakuannya sambil tersenyum kutanyakan pendapatnya tentang perilaku teman-temannya itu.

Sambil diam sejenak kemudian ia berkata kalau sebenarnya kesal juga sedikit iri dengan mereka yang mengambil jalan pintas untuk mendapatkan uang.

“Lha kalau nggak begitu, mungkin mereka juga akan mengalami nasib yang sama dengan kamu. Habis mau gimana lagi minta sama orang tua sulit, yah satu-satunya cara mungkin yang seperti kamu bilang itu.”, ujarku sembari menunggu reaksinya.

Siswi berjilbab itu hanya diam tertunduk mendengar kata-kataku. Nampaknya pernyataanku menusuk kedalam sanubarinya.

Melihat ia yang masih diam saja yang tidak membantah atau mengiyakan pernyataanku tadi, otakku mulai berputar mencari siasat untuk menggiring gadis yang sedang dalam kesempitan ini kearah yang kumau. Dengan lembut kutanya,

“Erni, kamu masih mau sekolah kan?”.

Dia hanya mengangguk pelan mengiyakan.

“Kalau om tolong bayarin SPP-mu kamu mau nggak?”, tanyaku lanjut.

“Ah, yang benar? Masak sih om?”, sahut Erni sambil memandangku dengan tatapan kaget seolah tidak percaya.

“Ya iya dong. Om serius mau ngebantu kamu. Masak bercanda?”, jawabku berusaha meyakinkannya.

Terkesima akan tawaranku gadis itu berkata heran,

“Aduh om baik sekali! Koq mau nolongin Erni? Om kan baru kenal sama Erni”.

“Saya nggak tega kalau kamu putus sekolah. Kasian kan kalau cita-cita kamu kandas di tengah jalan. Kasihan orang tua Erni yang punya harapan besar sama”, ujarku sambil tersenyum. Sejenak ia terdiam.

“Kenapa? Kamu masih nggak percaya?”, tanyaku.

Lalu ia menjawab,

“Bukan begitu om, tapi rasanya Erni nggak bisa membalas kebaikan hati om. Rasanya bantuan yang diberikan om terlalu besar buat Erni. Kayaknya terima kasih aja nggak cukup buat membalas semuanya.”, dengan wajah sedikit bingung.

“Ah, kamu nggak usah bingung. Kalau pengen balas budi gampang koq, asal kamu ngerti caranya.”, timpalku sambil tersenyum penuh arti.

Dengan pandangan penuh tanda tanya ia berkata.

“Caranya gimana om?”, seolah penasaran ingin tahu kemauanku.

“Er, di dunia ini tidak ada yang gratis. Kalau ingin mendapatkan sesuatu kita harus berusaha. Begitu juga dengan teman-temanmu. Mereka tahu kalau hanya mengandalkan orang tua segala keinginan yang terpendam tidak akan mereka dapatkan. Jadi walau banyak yang tidak suka cara mereka, mungkin termasuk kamu, mereka ambil jalan yang paling gampang. Caranya ya itu tadi yang seperti kamu ceritakan. Jadi… kalau kamu ingin membalas kebaikan om, yah caranya seperti yang seperti teman-temanmu itu”, paparku sambil tersenyum penuh arti.

Sekilas raut wajah remaja putri itu kaget sekaligus gelisah mendengar penjelasanku tadi. Ia cuma terdiam sambil tertunduk. Wajahnya yang manis nampak penuh kebimbangan.

Melihatnya dalam keadaan bimbang kulancarkan rayuan sambil mengiming-iminginya untuk membelikan segala macam barang bagus. Sekilas kemudian sambil menatapku dengan tatapan bimbang ia bertanya dengan suara pelan,

“Tapi om kalau… saya nanti hamil gimana?”.

“Oh.. itu sih gampang. Kamu nggak mungkin sampe hamil. Banyak cara buat mencegahnya koq. Tenang, om ngerti caranya.”, jawabku tersenyum seraya meyakinkan dirinya yang sedang bimbang.

Gadis itu kemudian menurunkan pandangannya ke atas meja sambil menaruh kedua tangannya diatas meja. Jemari kanannya meremas jemari kirinya pertanda ia sedang berpikir keras.

Setelah membiarkannya sejenak untuk berpikir, kulancarkan kalimat pamungkas untuk meruntuhkan kebimbangannya. Seraya memandang tajam wajahnya perlahan tanganku menyentuh jemarinya sambil berkata,

“Om tidak akan memaksa Erni. Kalau kamu mau om senang sekali, tapi kalau nggak ya nggak apa-apa. Tapi coba pikirkan sekali lagi, apa ada cara yang lebih baik lagi buat menyelesaikan masalah kamu sekarang….. hmmm”, seakan mengarahkan pikirannya kalau tidak ada cara lagi selain yang kutawarkan tadi.

Erni hanya bisa memandangku dengan tatapan sayu seakan pasrah mengiyakan ucapanku. Beberapa saat kami saling bertatapan seraya kedua tanganku meremas kedua jemarinya. Gadis itu seolah sudah berada dalam genggamanku karena ia tidak menolak jemarinya yang halus diremas olehku. Merasa semua sudah berjalan dengan rencanaku, kuajak ia berlalu dari situ.

Singkat cerita, selama dalam perjalanan menuju bungalow tempatku menginap pandangan dan pikiranku tidak lepas dari sosok siswi SMK di sampingku ini. Tangan kiriku tidak henti-hentinya bergerilya mengelus pipi, dagu, tangan dan bahkan pahanya. Namun karena sudah pasrah ia diamkan saja perlakuanku itu. Rasanya tidak sabar lagi untuk segera beraksi. Kularikan kendaraanku secepat mungkin agar cepat sampai tujuan.

Sampai ditujuan keluar dari mobil, bagai sepasang kekasih kurangkul pundaknya dengan tangan kiriku. Kubawa ia menuju kamar tidur utama. Kemudian setelah menutup pintu kamar kutarik kedua lengannya dan kuletakkan diatas pundakku. Sedangkan kedua tanganku mendekap erat tubuhnya. Wajah kami saling berhadapan amat dekat. Wajah yang cantik manis dengan tatapan sayu serta bibirnya yang mungil agak sedikit terbuka seperti meminta untuk dilumat. Segera kucium dan kulumat bibirnya dengan gemas sedangkan kedua tanganku mulai beraksi mengelus punggung dan pinggangnya bergantian.

Beberapa saat kemudian tanganku beralih turun ke pantatnya. Kuelus dan kuraba terasa kenyal dan padat bongkahan pantat gadis ini. Dengan gemas kuremas-remas pantatnya sambil sesekali mencengkram dan mendorongnya ke arah selangkanganku. Wajah Erni mengernyit kaget dengan perlakuanku itu. Apalagi dia merasakan benda aneh yang keras dari balik celanaku menekan-nekan selangkangannya. Puas melumat bibirnya ciumanku perlahan turun ke dagu kemudian leher menuju payudaranya. Sepasang payudara yang montok menggelembung padat meyembul dari balik hem putih lengan panjangnya. Segera kupagut dan kukulum payudara yang masih tertutup oleh kemeja putih seragamnya. Tangan kananku segera meraih dan meremas payudara kirinya sedangkan tangan kiriku masih asyik meremas pantatnya.

“Ohh…. mmmhhh”, kepala siswi berjilbab itu mendongak sambil melenguh menikmati perlakuanku. Kedua tangannya meremas-remas kepalaku.

Perlahan tangan kananku mulai membuka kancing baju seragamnya satu persatu sambil menarik bawahan kemeja itu dari balik roknya. Terpampang dihadapanku sepasang buah dada yang montok berukuran 33 dengan BH yang nampak kekecilan untuk menampungnya. Lalu kulucuti hem putih lengan panjang beserta BH yang masih dikenakannya itu. Kini Erni hanya tinggal mengenakan rok abu-abu panjang semata kaki dengan jlbab putihnya. Sengaja kubiarkan begitu karena bagiku hal tersebut merupakan sesuatu yang amat menggairahkan.

Melihat pemandangan yang indah ini segera kulanjutkan aksiku dengan menghisap dan menjilati sepasang puting susu miliknya yang sudah menegang dengan rakus. Terkadang tanganku ikut bermain dengan memiting dan memilin puting yang berwarna coklat muda itu.

“Ouhh… ahhh… ahhh”, desah bibir mungil yang setengah terkatup sambil meremas kepala dan pundakku.

Nafasnya naik turun menahan nikmat. Semakin lama desahannya semakin kencang membuatku semakin bergairah. Sambil membalikkan tubuh ABG ini hingga membelakangiku segera kulepas semua pakaian yang kukenakan tinggal celana dalamku. Kemudian sambil memeluk dari belakang kuraih wajahnya dan kulumat kembali bibir mungilnya, sementara kugesek-gesek penisku yang sudah menegang di dalam cd-ku kearah pantatnya. Sedang tangan kiriku asyik memilin puting dan meremas buah dadanya bergantian, jari tengah tangan kananku mulai mengorek-ngorek kemaluan Erni dari luar rok abu-abu panjangnya.

“Emmhh… mmhh..”, desahnya tertahan oleh ciumanku sedangkan kedua tangannya pasif memegangi tangan-tanganku yang sedang bereksplorasi seakan mengikuti permainan ini.

Beberapa menit kemudian kusuruh Erni membungkuk sambil tangannya memegang pinggiran meja hias yang ada di depannya. Lalu kusingkap roknya keatas sampai sepinggang.

“Wauw indah sekali…”, desahku perlahan melihat pemandangan yang ada dihadapanku ini.

Pantat yang bulat sekal ditopang sepasang paha dan betis mulus dan bersih. Kutarik celana dalamnya kebawah. Mataku menatap kagum keindahan pantatnya yang putih mulus. Sejenak kuelus dan kuremas bokong indah itu sambil sesekali menciuminya dengan gemas. Erni hanya bisa menundukkan kepalanya. Tubuhnya sedikit bergetar mendapat perlakuan seperti itu.

Setelah itu kurentangkan sedikit kedua pahanya dan kulihat vagina yang ditumbuhi bulu-bulu halus menebarkan baunya yang khas. Kusibakkan vagina gadis ini dan dengan jari tengahku kukorek-korek.

“Emmmhh….”, tiba-tiba tubuhnya menggelinjang hebat sambil pahanya bergerak seolah hendak menjepit tangan kananku yang sedang memainkan liang surganya.

Terus kukorek-korek sampai jariku mulai kebasahan oleh cairan kewanitaan yang keluar dari sana. Nafas dan desah kecilnya memburu membuat gairahku meningkat. Kurasa ini saat yang tepat untuk mulai beraksi karena penisku sudah menuntut untuk dimasukkan. Kutarik jariku, lalu kurebahkan tubuhnya ke ranjang. Matanya menatap sayu kearahku yang tinggal bercelana dalam.

“Ihhh..!!”, pekiknya pelan sambil menutup wajahnya begitu melihat kemaluanku yang besar tegak mengacung didepannya.

Perlahan kudekati Erni sembari menarik kedua belah tangannya.

“Kenapa sayang?”, tanyaku sambil tersenyum.

“Takut om, punya om besar sekali. Nanti sakit.”, ujarnya ketakutan.

“Tenang sayang nggak sakit koq. Cuma kayak digigit semut sebentar”, jawabku sembari mencium bibirnya untuk meredakan ketakutannya.

Kedua tanganku tidak ketinggalan memainkan payudara dan liang vaginanya.

“Mmmhh.. cupp.. cupp”, desahnya tertahan oleh ciumanku.

Sedangkan nafas gadis ini mulai memburu pertanda ia semakin terangsang. Tak lama kemudian kurasakan ujung jariku semakin basah oleh cairan yang keluar dari kemaluannya.

“Ah, ini dia saatnya”, ujarku dalam hati lalu kurentangkan kedua pahanya lebar-lebar.

Lalu sambil bertumpu dengan lengan kiriku, tangan kananku membimbing sang penis memasuki kemaluannya.

“Ouhh… sshhh..!”, desisnya sambil menyeringai menahan rasa sakit saat penisku perlahan memasuki liang kenikmatannya.

Kedua tangannya menggenggam erat seprei ranjang seakan bersiap untuk menerima kejutan lebih lanjut. Luar biasa! Penisku terasa kesulitan menembus vaginanya. Perlahan senti demi senti kemaluanku menembus lubang sempit siswi SMK ini. Akhirnya aku berhasil membenamkan seluruh batang kejantananku kedalamnya. Kurasakan nikmat luar biasa ketika penisku terasa seperti diurut oleh denyutan dinding kemaluan gadis ini. Sesaat bisa kurasakan kalau ada sesuatu yang menetes keluar dari kemaluannya. Nampaknya keperawanan gadis ini jebol sudah.

Kemudian perlahan kupompa maju mundur. Paras cantik Erni nampak mengernyit menahan sakit sambil menggigit bibir bawahnya. Namun lama kelamaan seiring dengan makin lancarnya genjotan penisku, mimik wajahnya berubah seperti mulai menikmati permainan ini.

“Shhh.. hehh.. hhhh”, desah kecil bibir mungilnya sembari kedua tangannya mencengkeram erat lenganku yang sedang bertumpu disamping tubuhnya.

Melihat wajah yang cantik sedang berdesah ini membuatku semakin bergairah. Segera kulumat bibir itu sambil memainkan lidahku di dalamnya dan ternyata ia juga membalas dengan memainkan lidahnya.

“Mmmhh… cupp… cupp…”, bunyi ciuman kami berdua yang diselingi permainan lidah.

Semakin lama semakin cepat genjotanku dan secara refleks Erni melingkarkan kedua kakinya ke pinggulku. Hampir sepuluh menit lamanya kami bersenggama dengan posisi ini dan tidak lama kurasakan lubang senggamanya semakin basah.

“Ouuhhh…. ohhhh…. Omm…. Err.. nnii.. mo.. pipisss..”, getar suaranya menahan suatu dorongan luar biasa dari tubuhnya.

Nampaknya dara bertubuh sintal ini akan mencapai klimaksnya. Dan benar saja, tubuhnya bergetar melengkung ke belakang sedangkan pahanya yang melingkar di pinggulku menjepit erat. Terasa sesuatu yang hangat menyemprot keluar dari dalam vaginanya membasahi penisku. Sejenak kuhentikan genjotan sambil mencabut penisku dari liang senggama dara montok ini.

Nampak penisku dibasahi oleh cairan vagina bercampur darah. Begitu juga vaginanya dan dengan secarik tisu kubersihkan kemaluan kami berdua. Beberapa menit kemudian kurangsang Erni kembali untuk menuntaskan hasrat birahiku yang belum tuntas. Tak lama kemudian vaginanya mulai basah pertanda dia sudah kembali terangsang.

Kemudian dengan mesra kuajak ia turun dari ranjang. Lalu kusuruh dia agar membungkuk membelakangiku. Tangannya bertumpu dipinggir ranjang sedangkan kedua kakinya menjejak ke lantai. Rok abu-abu panjangnya yang sempat terjurai kebawah kuangkat lagi sampai sepinggang. Sambil mencengkeram pantatnya yang montok dengan tangan kiriku, tangan yang kanan mengarahkan penis yang tegak mengacung ke arah vaginanya. Sejenak kugesek-gesekkan di bibir kemaluannya yang mulai basah tadi.

“Ohhh…”, desahnya pelan sambil menundukkan kepala sambil tangannya meremas-remas seprei.

Kini ujung penisku benar-benar terasa basah oleh cairan kewanitaan yang mengucur dari dalam kemaluannya. Perlahan dengan bantuan tangan kanan aku mulai melakukan penetrasi. Tidak seperti tadi, sekarang walau masih terasa sempit kemaluanku dengan lancarnya menerobos masuk sampai pangkal penisku menyentuh bokongnya. Kubiarkan penisku yang terbenam penuh didalam liang senggama gadis ini sejenak. Lalu dengan perlahan kumaju mundurkan selangkanganku. Kulakukan dengan tempo lambat untuk beberapa saat lalu secara bertahap kupercepat sodokanku.

“Ahhh… ahhh… uhhh… uhhh”, desah Erni yang semakin lama semakin kencang.

Tubuhnya terguncang-guncang karena sodokanku yang makin lama makin cepat. Sambil menyetubuhinya dari belakang kedua tanganku beraksi meremas dan mencengkeram pantatnya.

“Plakkk… plakkk…”, bunyi selangkanganku saat berbenturan dengan bokongnya. Terkadang kuremas kedua buah dadanya dari belakang

“Ohhh… Errrnnniii… sayyyanggg… ennakk… khammuu… memang… nikmaatt.. sshhh..”, racauku sembari menggenjot pantatnya dengan cepat.

“Emmmhhh… ohhh… omm… mmhh”, desah siswi berjilbab itu seakan merespon racauanku sembari kepalanya bergoyang kanan kiri terkadang menunduk kebawah menahan nikmat.

Tubuh kami berdua kini benar-benar basah kuyup bermandikan keringat. jilbab dan rok sekolah yang melilit dipinggang Erni juga ikut basah karenanya.

Tak terasa lebih dari 10 menit kami berdua bersetubuh dalam posisi ini. Lama kelamaan dorongan berejakulasi tidak dapat kutahan lagi. Sedangkan gadis yang sedang kugenjot ini juga mulai menampakkan tanda-tanda akan orgasme.

“Ouhh… omm… Errrhhh… nnnii… mauh… pipisss lagihhh…”, kata dara manis ini dengan nafas terengah-engah.

“Ssshh… tahhann… sedikitt… llagii… sayyyaaangg. Ommh… jugga… mo.. nyampee..”, ujarku sembari mempercepat laju sodokanku.

“Ohhhh….”, erang Erni dengan tubuh menegang dengan kepala mendongak seraya vaginanya megucurkan cairan.

Bersamaan dengan orgasmenya Erni akupun mencapai klimaks. Lalu kupeluk pinggangnya erat-erat sembari membenamkan penisku dalam-dalam.

Dan,”Ahh….!”, lenguhku nikmat seraya memuntahkan air maniku.

Liang senggamanya sekarang dipenuhi oleh campuran spermaku dan cairan vaginanya. Kemudian kami berdua terkulai lemas sisi ranjang dengan posisi aku menindihnya dari belakang. Kubiarkan sejenak kemaluanku yang masih tegang didalam vaginanya.

Hari menjelang sore, tak terasa kami terlelap puas. Saatnya aku mengantar Erni pulang. Tak lupa sebelumnya kuberi dia pil pencegah kehamilan. Dan sesuai dengan janjiku padanya tadi, kami mampir dulu di pusat perbelanjaan dan kuberikan semua yang ia mau plus uang untuk kebutuhan sekolahnya.

Dalam perjalanan mengantarkannya pulang aku sempat menikmati tubuhnya sekali lagi. Di tempat yang sepi dan gelap jauh dari keramaian kutepikan sedanku. Sembari menyuruh Erni pindah kepangkuanku kugeser mundur tempatku duduk. Sambil ia duduk membelakangiku kusingkap rok abu-abu panjangnya dan kusibak celana dalamnya. Lalu bersetubuhlah kami sampai klimaks. Setelah puas kulanjutkan perjalanan mengantarnya pulang. Sebelum sampai ditujuan aku berjanji padanya untuk meghubunginya kembali bila aku cuti atau libur.

Bapaknya dina

Dina itu temenku. Aku sering maen kerumahnya sehingga aku akrab sama ortunya. Cuma aku heran aja ngeliat ibunya Dina, muda banget. Kalo jalan ama Dina kaya kakak adek aja. Bapaknya, om Deni, 40an lah, ganteng dan atletis badannya. Aku bingung melihat sikap om Deni padaku, akhir-akhir ini sering sekali dia ngajakin aku ngobrol biar sebenarnya aku dateng untuk ngobrol ama Dina. Tingkahnya makin menjadi-jadi, dia selalu mengeluh padaku karena gairah sexnya tidak terpuaskan, ibunya Dina kelihatannya sudah enggan meladeni napsu suaminya. Ketika aku nanya kenapa, si om gak mo jelasin alesannya. Ya aku sih nanggepinnya gitu-gitu aja. Aku merasa dia sedang merayuku untuk mau meladeni napsunya. Aku mula-mula sungkan dengan tingkahnya, tetapi karena seringnya dia melakukan hal yang sama, buatku menjadi biasa. Dina hanya tersenyum ketika kulapori ulah bapaknya (tentunya secara umum, aku gak crita ama Dina kalo dia ngeluh ibunya gak mo ngelayani bapaknya), dia bilang, itu tandanya papah sayang sama aku. Aku dah dianggep kayak anaknya.

Suatu sore aku datang lagi ke rumah Dina. Cuma Dina ama ibunya lagi ada keperluan ke Bogor, nginep disana, pulangnya besok. Ketika aku pamit, om Deni minta nemenin dia ngobrol aja. Aku diajaknya keluar cari makan malem di mall. Di mall aku digandengnya, kadang pundakku dipeluknya. Aku jadi risi,

“Om, gak enak diliat orang”, kataku.

“Gak ada yang kenal ini kan, cuek aja”, jawabnya.

Aku akhirnya mendiamkan ulahnya. Aku dibelikan pakean oleh si om. Kemudian baru cari makan. Si om pesen sate kambing.

“Om, makan kambing ntar ngembek lo, kan tante lagi di Bogor”.

“Ada dia juga percuma Nes, kan aku gak puas ama dia”.

“Trus yang ngeladenin embeknya om apa?”

“Kamu ya”.

Aku kaget juga mendengar jawabannya. Ternyata benar dugaanku, dia mengharapkan aku meladeni napsunya. Tapi aku diem aja, aku mengalihkan pembicaraan ke hal laennya. Seusai makan, aku diajaknya mampir lagi ke rumahnya. Ku iya kan aja, walaupun aku tau maksud sebenarnya si om. Aku pengen juga ngerasain maen ama bapaknya Dina, dia tipe lelaki kesukaanku, apalagi aku dah dibeli-beliin ama dia.

Sampai dirumah, dia mendadak memelukku dari belakang.

“Nes, kamu merangsang sekali deh”.

Aku gak terkejut dengan ulahnya walaupun belum pernah dilakukan sebelumnya, aku membiarkannya saja. Aku malah merasa.

“Om, nanti dilihat orang lo, pintunya masih terbuka”, kataku.

Dia melepaskan pelukannya dan menutup pintu rumah. Dia duduk di sofa dan minta aku duduk disampingnya, ketika aku duduk dia segera memeluk dan bibirnya langsung menyambar bibirku. Aku larut dalam lumatan bibirnya yang ganas, lidahnya menyusup ke dalam mulutku dan melilit lidahku, spontan aku membalas aksinya dengan menyambut ciuman ganasnya, akupun mengemut lidahnya yang menari-nari didalam mulutku.

“Om nekatt..” kataku.

“Abisnya kamu ngegemesin sih..”

Kembali dia mencium bibirku, tangannya kali ini menggerayangi tetekku, diremas-remasnya pelan-pelan sehingga aku mulai terhanyut oleh napsuku yang mulai berkobar. Jemarinya menyusuri pahaku, menyingkap rokku ke atas, sehingga terpampanglah pahaku, dia tambah bernapsu. Sambil terus mengulum bibirku, tangannya mengelus pahaku makin keatas sehingga rokku makin tersingkap, sampai jarinya menyentuh bukit mekiku. Otomatis pahaku merenggang memberi kesempatan jemarinya untuk bermain lebih leluasa di bukit mekiku. Terasa jari nakalnya mulai menyusup kedalam CD ku dan mengilik itilku, aku menggelinjang, napsuku makin berkobar saja.

“Om, aah”, erangku.

“Kenapa Nes, kamu dah napsu ya, ke kamar yuk biar lebih asik”, jawabnya sambil bangkit dan setengah menyeretku ke kamar.

Aku hanya ngikut saja ketika dia menarikku ke kamar, kewarasanku sudah tertutupi napsuku yang berkobar, napsuku yang memaksaku mengikuti kehendak bapak temenku karena dorongan keinginan merasakan kepuasan di ranjang. Di kamar, langsung saja aku ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas-remas tetekku yang sudah mengeras, pentilku di pilin-pilinnya, aku hanya bisa ber… ah… uh karena rangsangan yang luar biasa itu. Aku malah mengimbangi ciuman ganasnya, aku ditariknya ke ranjang. Pentilku langsung diserbunya, diemut-emutnya dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras, sementara itu tetekku terus saja diremas-remasnya. Puas mengemut pentilku, jilatan lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di mekiku. Lidahnya segera membelah bibir mekiku dan menjilati itilku, aku mengangkangkan pahaku sehingga mempermudah dia menggarap itilku. Aku mulai mengerang-ngerang saking nikmatnya yang melanda tubuhku.

“Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..” badanku melintir, bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di itilku.

Dia makin bersemangat karena eranganku.

Tiba-tiba dia melepaskan jilatannya, segera dia melepaskan semua pakaiannya. Batangnya yang besar dan panjang sudah sangat keras. Dia segera menaiki tubuhku yang sudah telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala batangnya dengan ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir mekiku dan langsung ditusuk masuk.

“Hhgghh..” sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan batangnya.

Tapi karena sudah cukup siap, dengan mudahnya dia menancapkan batangnya ke dalam mekiku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya batangnya yang cepat amblas ke dalam mekiku. Begitu tertanam didalam, aku menahan pinggangnya agar sodokannya jangan terus berlanjut. Dia menungguku sampai sudah siap, baru batangnya dienjotkan keluar masuk pelan-pelan. Mula-mula terasa aneh ketika batangnya mulai memompa mekiku, terasa banget batangnya yang besar menyeruak masuk mengisi lobang mekiku yang terdalam.

“Hhsssh, dalemm bangett om..” spontan keluar eranganku.

“He.ehh.. tapi kan nggak sakit?” tanyanya.

“Enggak kok om, malah nikmat banget rasanya”, jawabku terengah.

Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit pahanya.

“Gimana rasanya.. nggak sakit kan?”

“Nggak.. enak malah geli sampe ke dalem-dalem sini.” jawabku sambil mengusap-usap perut atasku.

“Apanya yang enak?”

“Ngg.. batang om..” jawabku.

Dia makin gencar mengenjotkan batangnya keluar masuk sehingga aku makin menggeliat saking nikmatnya.

“Om enakk om.. Iya.. Duhh dalem bangett masuknya om.. Aaa.. dikorek-korek gitu Ines pengenn keluarr. Ayyo om.. adduuh”, erangku gak karuan.

“Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak mekimu Nes.. Om juga mo keluaarr.. sshmmmh..”

“Hhsss.. aduuhh tobatt om.. hahgh ooghh.. batangnya kok masuk dalem sekali om, gedee sekalli, aduuh.. om..” batangnya makin dipompa keras-keras, nikmat banget rasanya.

“Heg.. yaang kerass omh.. shh iya gittu.. aduh.. ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo om.. aaahgh.. sshgh.. Iyya om, Ines udah mo nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..”

Dia meremas-remas tetekku, sampai akhirnya akupun nyampe. Dadaku membusung, seolah-olah tubuhku terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua tetekku. Tapi menjelang tiba di saat dia muncrat, dia mencabut batangnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk. Dia menekan kepalaku ke arah batangku yang tegang mengangguk-ngangguk berlumuran cairan mekiku.

“Ayo Nes isepin sampe keluarr..”

Tanpa ragu-ragu aku langsung mencaplok dan mengocok batangnya dengan mulutku. Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya saja dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia muncrat di mulutku. Aku agak tersedak karena semprotan maninya yang tiba-tiba, dia terus menekan kepalaku supaya aku tidak melepaskan kulumanku sehingga maninya tertelan olehku. Setelah keluar semua, aku melepas mulutku, langsung meringis.

“Kenapa Nes, nggak enak ya rasanya?” tanyanya geli.

“Asin rasanya om..” jawabku ikut geli.

“Maaf ya? Terpaksa om tumpahin di mulut, soalnya kalo di mekimu nanti jadi lagi.”

“Nggak pa-pa kok om, sekali-sekali buat pengalaman baru kok..”

“Kalo sering-sering emang kenapa?”

“Emang enak sih dikeluarin pake mulut?” kataku sambil bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini.

“Oo.. sama kamu sih pasti enak aja.” jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.

Di kamar mandi, dia memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya mulai meremas tetekku, pentilnya diplintir-plintir sambil menciumi kudukku. Aku menggelinjang kegelian. Aku mencari batangnya, astaga, sudah mulai tegang lagi rupanya. Kuat banget dia, baru aja muncrat di mulutku sudah mulai ngaceng lagi.

“Kuat banget sih om, baru Ines emut sampe muncrat udah ngaceng lagi”, kataku.

“Iya tadi kan muncrat dimulut kamu, sekarang pengen muncrat di meki kamu”, jawabnya sambil terus meremesi tetekku.

Leherku terus saja diciumi, dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam, batangnya yang makin keras aku remes dan kocok-kocok biar sempurna ngacengnya.

“Om, Ines isep lagi ya”, kataku sambil jongkok di depannya.

Ujung batangnya kujilati dan kemudian giliran kepala batangnya, terus ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati batangnya. Kemudian jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum.

Kepalaku mengangguk-ngangguk seiring keluar masuknya batangnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku elus-elus.

“Aah Nes, nikmat banget deh”, erangnya.

Dia memegang rambutku dan mendorong batangnya keluar masuk mulutku dengan pelan. Sepertinya dia udah tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan ditelentangkan di ranjang. Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan. kemudian jilatannya turun ke perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke jembutku. Jarinya mulai mengelus bibir mekiku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi mekiku yang sudah basah kembali. Jilatannya tidak langsung ke it1lku tapi berputar-putar sekitar mekiku.

Ke daerah paha, terus ke daerah pantat dan naik lagi.

“Om, nakal ih”, desahku, napsu sudah kembali menguasaiku.

Jilatannya diarahkan ke it1lku sambil memasukkan jarinya ke mekiku. Dia menggerakkan jarinya keluar masuk mekiku.

“Om aah”, desahku saking napsunya.

Pinggulku menggeliat kekiri kekanan.

Akhirnya sampailah saat yang kutunggu-tunggu, dia menaiki badanku, ditindihnya aku, batangnya diarahkan ke mekiku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap-usapkan dibibir mekiku. Aku mengangkat pantatku ke atas sehingga bless masuklah kepala batangnya membelah bibir mekiku. Dia mulai mengeluar masukkan batangnya ke mekiku, pelan-pelan, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh batangnya nancep dalem sekali di mekiku.

“Om, nikmat sekali”, jeritku.

Aku menggelinjang makin gak beraturan seiring dengan enjotan batangnya keluar masuk mekiku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan batangnya ke dinding mekiku, nikmat banget. Mekiku mulai berdenyut-denyut meremes-remes batangnya yang terus bergerak lincah keluar masuk.

“Om, Ines udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras om, aah”, erangku lagi.

Dia makin semangat mengenjot mekiku. Tiba-tiba dia berhenti dan mencabut batangnya,

“Om”, protesku.

Ternyata dia pengen ganti posisi. Aku disuruhnya nungging dan kembali batangnya melesak masuk mekiku dari belakang, doggie style.

Pantatku dipeganginya sementara dia mengenjotkan batangnya keluar masuk. Tetekku yang berguncang-guncang seirama dengan enjotan batangnya diraihnya, diremes-remesnya, pentilnya diplintir-plintir, menambah kenikmatan yang sedang mendera tubuhku.

“Terus om”, erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya.

Aku memaju mundurkan badanku supaya batangnya nancep dalem sekali di mekiku, sampe akhirnya,

“Terus om, Ines nyampe lagiii”.

Dinding mekiku berdenyut-denyut mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot mekiku dengan cepat. Aku nelungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya. Dia membaringkan dirinya, batangnya masih tegak berdiri berlumuran cairan mekiku.

“Nes, kamu yang diatas ya, om belum keluar neh”, pintanya.

Aku menempatkan diriku diatasnya, batangnya kupegang dan langsung kutancapkan ke mekiku, badan kutekan kebawah sehingga langsung aja batangnya ambles semua di mekiku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri kekanan, maju mundur, berputar-putar. Biar cape, tapi nikmat banget rasanya gesekan batangnya ke mekiku. Tetekku diremes-remesnya sambil memlintir-mlintir pentilnya. Aku merubah gerakanku menjadi keatas ke bawah mengocok batangnya dengan mekiku.

“Om, nikmat banget om”, erangku.

Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, aku ambruk di dadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya.

“Om, belum mau muncrat ya, Ines lemes om”, desahku.

“Tapi nikmat kan”, jawabnya.

“Nikmat banget om”.

Dia berguling tanpa mencabut batangnya dari mekiku sehingga sekarang dia ada diatasku. Dia mulai lagi mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku.

“Nes, udah mau muncrat, di dalem ya”, erangnya sambil mempercepat enjotannya.

“Muncratin di dalem aja om, kan om pengen muncrat di dalem mekinya Ines”, jawabku terengah.

Dia terus mengenjotkan batangnya keluar masuk mekiku, sampe akhirnya,

“Nees”, erangnya.

Terasa sekali semburan maninya membanjiri mekiku. Kami berdua terkulai lemas.

“Nes, nikmat banget deh maen ama kamu, lebih nikmat dari Dina”.

Aku kaget mendengarnya.

“Dina kan…”

“Dina anak tiri kok Nes. Pernah satu waktu, om cuma berdua ama Dina dirumah. Mamanya Dina lagi ke Bogor. Om denger Dina lagi ah uh di kamarnya. Om buka pintunya, Dina gak ngunci pintunya. Dina lagi telanjang bulet ngilik it1lnya sendiri. Om gak tahan deh ngeliatnya. Om ajak maen aja si Dina. Dinanya mau, dia rupanya dah napsu skali rupanya. Sejak itu om dah beberapa kali maen ama Dina kalo mamanya gak dirumah. Dina juga bilang kalo kamu juga nikmat kalo dientot, makanya om selalu memperhatikan kamu, horny banget ngeliat kamu bahenol gini”.

“Oooo…” cuma itu yang terucap dari mulutku.

“Terus, napa mamanya Dina masih muda banget om, kok dia gak bisa muasin om?”

“Mamanya Dina itu kawin muda sekali, kebobolan, dah hamil duluan. Masih SMU ketika itu, Dina lahir. Kaya kakak adik ya ama Dina. Dia itu kalo dah klimax langsung lemes, sedang om masih pengen lagi”.

“Ooo..” lagi terlontar dari mulutku.

“Kamu tidur disini aja ya Nes, mereka kan baru pulangnya besok. Om belum puas neh, masih pengen lagi ngerasain empotan meki kamu. Hebat banget deh Nes empotan kamu, nikmatnya ampe ke ubun-ubun”.

“Istirahat dulu ya om”.

“Iya, om juga cape kok, kita tidur aja yuk”.

Tak lama kami terlelap dalam keadaan telanjang bulat.

Paginya aku terbangun, om Deni masih tertidur, aku turun dari ranjang ke kamar mandi mo pipis dan sikat gigi. Kembali ke kamar si om dah bangun, kulihat batangnya dah ngaceng lagi dengan kerasnya.

“Om, luar biasa deh, tuh dah ngaceng lagi”.

“Iya Nes, dah pengen ngerasain empotan kamu lagi”.

Dia lalu berbaring telentang di ranjang, lalu aku jongkok di atasnya dan menciuminya, tangannya mengusap-usap punggungku. Bibirnya kukulum,

”Hmmmhh… hmmhhh…” dia mendesah-desah.

Setelah puas melumat bibir dan lidahnya, aku mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya. Terus kebawah lalu kuciumi dadanya.

“Hmmmhhh… aduh Nes enak ..” rintihnya.

Dia terus mendesah sementara aku mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali dia berteriak kecil kegelian. Akhirnya batangnya yang sudah ngaceng berat kupegang dan kukocok-kocok,

“Ahhhhh… Hhhh…. Hmmhmh… Ohhh Nes…” dia cuman bisa mendesah doang.

Batangnya langsung kukenyot-kenyot, sementara dia meemas-remas rambutku saking enaknya,

“Ehmm… Ehmm…”

Mungkin sekitar 5 menitan aku ngemut batangnya, kemudian aku bilang,

“Om… sekarang giliran om yach?”

Dia cuma tersenyum, lalu bangkit sedangkan aku sekarang yang ganti tiduran. Dia mulai nyiumin bibirku, turun ke leherku sementara tangannya meraba-raba tetekku dan diremasnya.

“Hmhmhhm… Hmhmhmh…” ganti aku yang mendesah keenakan.

Apalagi ketika dia menjilati pentilku yang tebal dan berwarna coklat tua. Setelah puas melumat pentilku bergantian, dia mulai menjilati perutku, kemudian langsung menciumi mekiku dengan penuh napsu, otomatis pahaku mengangkang supaya dia bisa mudah menjilati meki dan it1lku.

“Ahh.. Ahhhh…” aku mengerang dan mendesah keras keenakan.

Sesekali kudengar “slurrp… slurrp…” dia menyedot mekiku yang sudah mulai basah itu.

”Ahhhh… om… Enak …” desahanku semakin keras saja karena merasa nikmat.

Napsuku sudah sampe ubun-ubun, dia kutarik untuk segera menancapkan batang besarnya di mekiku yang sudah gatel sekali rasanya, pengen digaruk pake batang.

Pelan-pelan dia memasukkan batangnya ke dalam mekiku. Dengan satu enjotan keras dia menancapkan seluruh batangnya dalam mekiku.

“Uh… uhhh…. Ahhhhhhh… nikmat banget om” desahku ketika dia mulai asyik menggesek-gesekkan batangnya dalam mekiku.

Aku menggoyang pinggulku seirama dengan keluar masuknya batangnya di mekiku. Dia mempercepat gerakannya. Gak lama dienjot aku sudah merasa mau nyampe,

“Ah… om… Ines sepertinya mau… ahhh…” dia malah mempergencar enjotan batangnya dimekiku,

“Bareng nyampenya ya Nes, aku juga dah mau ngecret”, katanya terengah.

Enjotan batangnya makin cepat saja, sampe akhirnya,

“Om, Ines nyampe aah”, badanku mengejang karena nikmatnya, terasa mekiknu berdenyut-denyut meremas batangnya sehingga diapun menyodokkan batangnya dengan keras,

“Nes, aku ngecret aah”, terasa semburan pejunya yang deres dimekiku.

Dia terkapar lemes diatas badanku, demikian pula aku. Setelah istirahat sejenak, dia mencabut batangnya, memakai pakaiannya dan keluar meninggalkan aku terkapar telanjang di ranjang. Sejak itu setiap ada kesempatan, aku selalu minta dientot sama om.

Senin, 25 Januari 2010

Rena adik temanku yg cantik

Perkenalkan,namaku Irwan,seorang pelajar kelas 3 SMA,aku mempunyai satu teman akrab yang kuanggap saudara sendiri,aku juga sering menginap di rumahnya,Budi namanya,Budi mempunyai adik bernama Rena,dulu kami sering bermain bersama,sayang Rena pergi ke Jakarta untuk belajar di sana,kira – kira dia kelas 1 SMA sekarang.

Di sekolah Budi mengajakku untuk menginap di sekolah.
“Eh,Wan,hari ini kamu menginap di rumahku,ya?”
“Ehhhhm,makasih deh,Bud,tapi hari ini aku agak malas,besok aja,ya?”Balasku
“Yah,kamu,padahal hari ini Rena pulang ke sini,loh,dia akan sekolah di sini,kamu udah rindu ama Rena,kan?”
“Hah,yang benar kamu?”
“Iya”Jawab Budi singkat disertai anggukan.
Akupun setuju ketika mendengar Rena akan pulang,aku sudah agak rindu padanya,aku penasaran bagaimana tampang Rena saat ini,saat bel tanda pulang sudah berbunyi,aku langsung naik ke motorku,lalu kukendarai ke rumahku,setelah mandi lalu beristirahat sebentar,aku mengurusi barang yang akan kubawa,lalu setelah pamit pada ibuku,kukendarai sepeda motorku ke rumah Budi yang tergolong besar,maklum orang tua Budi pengusaha yang sukses sehingga mereka jarang berada di rumah,bahkan kadang tidak pulang di rumah.

Stelah memencet bel,Budi membukakan pintu
“Hai,Wan”
“Hai,Bud,mana pembantu kamu,ada 2 kan?”
“Iya,mereka lagi pulang kampung dengan urusan berbeda”
“Orang tua kamu?”
“Mereka gak pulang malam ini,ada urusan mendadak di luar negeri”
“Wah,parah,nih,makanya kamu panggil aku?”
“Iya,ayo masuk dulu”
Akupun masuk,lalu kuletakkan tasku di ruang kamar yang khusus disediakan untukku,orang tua Budi sangat senang jika aku datang menemani anak mereka.Akupun masuk ke kamar Budi,dan kami bermain P.S 2,lalu Budi mengajakku menjemput Rena,dia mengeluarkan Honda Jazz berwarna hitamnya,akupun naik,dan kami ke bandara.

Sekitar 30 menit aku berbincang – bincang dengan Budi,tak lama kemudian muncullah gadis yang semula tak kukenal.
“Rena?”Tanya Budi dengan ragu -ragu
Gadis itu mengangguk,mereka berpelukan selama 1 menit sambil tersenyum,sedangkan aku terpesona dengan Rena,wajahnya sangat cantik,kulit putih,tubuh mungil,payudara yang tak terlalu besar,pantat berisi dan rambut panjang.1 menit aku terpesona padanya,Rena memandangiku,aku terbuyar dari keterpesonaanku,lalu kucoba menyapanya.
“Hai,Ren,lama tak bertemu kamu makin cantik aja,yah?”
“Ahh,Kak Irwan bisa aja,deh,Kak Irwan juga makin ganteng,kok”
Wajah cantiknya yang tersenyum bagaikan membuatku beku,keringatku keluar pertanda aku gugup pada Rena,sementara *****ku berdiri keras melihat Rena dengan wajah cantiknya dan tubuh indahnya.Kami naik ke mobil,aku duduk di belakang sedangkan Rena bersama Budi di depan,selama perjalanan,aku hanya diam memandangi payudara montoknya,nafsuku sangat memuncak,tapi kucoba sesekali mengeluarkan lelucon yang kumiliki agar tak dicurigai.

Seperti dulu,Rena sering manja padaku,dia sering mencubit tanganku dengan lembut,tapi itu malah semakin membuat *****ku mengacung dengan keras,saat sampai di rumah,Budi mengangkat telepon yang berbunyi,dia tergesa – gesa berlari ke arahku yang berada di samping Rena.
“Rena,aku disuruh ibu untuk pergi menjenguk Bibi Ira,dia lagi sakit,kamu dan Irwan tolong jaga rumah,ya?Tadi ibu suruh ada yang jaga rumah,soalnya sekarang banyak pencopet”.Aku mengangguk dengan cepat,begitu pula dengan Rena,nafsuku naik,aku bersama gadis cantik bertubuh indah ini di rumah sendiri?Tapi kucoba tahan karena dia adik temanku.

Aku diajak Rena ke kamarnya,sementara dia mandi,sayang tak ada celah untuk mengintip,akupun membuka TV,*****ku ini tak bisa berhenti berdiri membayangkan tubuh indah Rena,20 menit kemudian Rena keluar,yang membuatku kaget,tubuhnya yang indah itu masih dililit oleh handuk.
“Sori,ya,Kak,Rena lupa ambil baju”
Aku hanya mengangguk pelan,pikiranku dipenuhi pikiran kotor,Rena ke lemari yang berada pas di belakang TV,sengaja kumatikan TV agar bisa kulihat tubuh Rena lewat pantulan
“Kakak jangan ngintip,ya?”
“Iya,mana mungkin,sih?”
Benar saja,lewat pantulan layar TV,aku bisa melihat tubuhnya,namun sayang dia menghadap ke lemari,aku yang tak bisa menahan nafsu ini pelan – pelan ke arahnya yang telanjang,dan dia tak melihatnya karena sibuk mencari baju,tanpa sadar,tanganku mengarah ke payudaranya,kuremas lembut payudaranya sambil mulutku mencium dan menjilat leher belakangnya,tentu saja Rena terkejut,dan di berusaha memberontak
“Jangan,Kak,apa yang kakak lakukan?”
“Rena,aku sayang sama kamu”
“Aku juga sayang kakak,tapi jangan lakukan itu,Kak.”
Kata – katanya itu tak kudengar,tangan kananku meremas dan meraba payudaranya sementara tangan kiriku turun ke arah vaginanya.kuraba vaginanya yang sudah basah,entah kenapa Rena hanya mendesah kecil,tapi rontakannya berkurang,mungkin dia sudah nafsu,kubalikkan tubuhnya ke arahku,dapat kulihat payudaranya yang agak montok dan vaginanya yang ditumbuhi bulu halus dan berwarna kemerahan.
“Jangan,Kak,aku masih perawan”
“Gak pa-pa Ren,nanti kamu akan merasakan kenikmatan,kakak minta tolong,ya?Udah lama kakak gak merasakan sensasi begini,Ren”
Entah karena nafsu atau kasihan padaku,Rena mengangguk kecil.Aku tak membuang – buang kesempatan,langsung saja kusuruh agar dia menunduk dan membukakan celanaku,terpampanglah *****ku yang berukuran besar dan membuat Rena kaget dan jijik.
“Ayo,dong,Ren,dihisap,tolong,Ren”Kataku meyakinkan
Pertama Rena menyentuhnya dengan satu jarinya,lalu dia mengocok – ngocokkan *****ku itu,lalu diapun memasukkan *****ku dalam mulutnya yang mungil,pertama agak kaku,tapi setelah dia terbiasa,terasa sangat enak dan nikmat.

Setelah puas dengan permainan mulutnya,kuangkat tubuhnya sejajar denganku,kukulum bibirnya yang seksi itu sambil tangan kananku meraba payudaranya dan tangan kiriku meraba dan menusuk vagina Rena yang masih perawan,semakin lama,kurasakan vagina Rena semakin basah,dia hanya memejamkan mata menikmati permainan tanganku dan mulutku.

Kini kuangkat tubuh Rena berbaring di ranjang
“Ayo,Ren,buka lebar kakimu”
Seperti yang kuperintahkan,dia membuka kakinya lebar,membuatku dapat melihat seluk beluk vaginanya yang merah,kini aku bersiap – siap menusukkan *****ku pada vaginanya,sementara dia sudah sangat bernafsu dan tak bisa menolak apa yang akan kulakukan padanya,aku mulai menusukkan *****ku secara perlahan,agak susah masuk karena vaginanya sangat sempit,baru 1/3 *****ku masuk,Rena menjerit kesakitan,setelah lima menit berusaha,akhirnya amblaslah semua *****ku dalam vaginanya,kini Rena merasakan kenikmatan,kurasakan vaginanya yang masih sempit itu serasa memijit *****ku,kini karena Rena sudah menikmatinya,aku menambah kecepatan tusukanku,
“Akkkkkkh,Ahhhh,Ehhhhm,pelan – pelan,Kak”
Aku memainkan *****ku dalam vaginanya dengan cepat membuat dia mendesah kenikmatan dengan keras dan matanya dipejamkan,lama aku menusuk vaginanya sementara kakinya dilingkarkan padaku,wajahnya yang basah oleh keringat trlihat sangat cantik olehku,begitu pula dengan tubuhnya yang dipenuhi keringat,sangat indah,kulihat Rena mengeluarkan air matanya.

Setelah 20 menit,vagina Rena mengeluarkan cairan hangat yang membasahi *****ku,tapi tak kupedulikan dan aku terus lanjut menusuk vaginanya,sampai sekitar 5 menit kurasakan *****ku akan segera mengeluarkan sperma,jadi kucabut *****ku dan kukocokkan secara cepat ke mukanya,pertama dia agak jijik dengan sperma itu,tapi akhirnya dia meminumnya.
“Akkhh,sudah,ya,Kak,Rena udah capek banget,nih”
“Hmmm,kakak masih nafsu,nih”
Kini kuangkat tubuhnya dan tanganku menahan pantatnya
“Hmmm,boleh,deh,Kak,lanjut aja,Rena juga masih ingin kenikmatan itu”
Kuarahkan *****ku ke vaginanya,kembali vaginanya yang sempit itu memijat *****ku dengan lembut,kumajumundurkan dengan cepat yang membuat Rena kembali memejamkan mata menahan kelelahan dan kenikmatan,kumajukan kepalaku dan menyiumnya ala french kiss sementara *****ku masih bermain di vaginanya yang sempit,kurasakan sensasi luar biasa,beginikah rasanya vagina yang sempit?

Sekitar 30 menit aku menggenjot tubuh indah Rena,ia hanya mendesah kecil karena mulutnya dicium oleh mulutku,
“Ahhhhhh,Akhhhh,Ehhhm,Ssssst”
Kini vaginanya kembali mengeluarkan cairan hangat,kutaruh tubuhnya yang sudah kelelahan di ranjang,lalu kukeluarkan spermaku di mukanya.Kurasakan *****ku agak capek sehabis menyetubuhi vagina yang agak sempit,tapi aku sangat senang bisa merasakan sensasi luar biasa itu,kulihat Rena kelelahan dengan wajah puas,mungkin dia akan ketagihan.

Aku segera memakai bajuku,lalu kubersihkan bekas darah perawan Rena,akupun bertanya padanya
“Ren,maaf,ya,kakak udah merenggut keperawanan kamu”
“Nggak apa – apa,kok,Kak,Rena puas dengan kenikmatan yang diberikan kakak,baru kali ini Rena merasakan kenikmatan ini”
Aku senang mendengarnya,kupeluk tubuhnya itu.Budi pun pulang,kami bertingkah seperti biasa,dan Budi tak tahu apa -apa,sejak peristiwa itu,Rena semakin sayang padaku,dan kami masih sering bersetubuh,hingga aku menembak Rena dan dia menerimanya.

Rens gadis SMU yg menggairahkan

Pembaca sekalian perkenalkan nama ku Roy sampai sekarang aku masih melanjutkan kuliah di sebuah universitas di Magelang.
Umur ku masih 20 tahun. Cerita ini berawal ketika aku dan teman ku Ronald, Jefry dan rudi yg senang bermain game online ataupun sekedar bermain internet, membuka sebuah game centre dan warnet yg terletak di daerah Magelang utara. Pada dasarnya sih kami membuka usaha itu cuman iseng-iseng aja. Yah dari pada nga ada kerjaan ataupun malah menghabiskan uang untuk main game atau main internet di tempat lain, mendingan buat sendiri toh bias nambah nambah uang buat jajan dan beli rokok.

Belum lama usaha kami buka, kami seperti setengah kaget dan senang.
Bagaimana kami tidak senang, kebanyakan user kami adalah cewek-cewek SMU dengan postur tubuh yg sangat mempesona, bahkan bisa di ibarat kan buah apple yg siap di petik. Dan juga masih banyak gadis-gadis muda yg main ke tempat kami. Dengan keramahan teman-teman yg selalu sopan dan romantis dalam melayani pelangan, yah kami memang cukup professional. Bahkan postur tubuh kami dah wajah kami juga cukup lumayan mungkin itu juga salah satu factor yg membuat mereka tertarik untuk selalu datang berkunjung.

Di antara gadis-gadis yg masih segar itu ada satu yg sangat istimewa di mataku dan teman-temanku. Nama nya Rena dia cukup cantik, bukan hanya cantik, luar biasa mungkin dan istimewa tentu nya. Terkadang dia datang dengan Karina, Monica dan Cindy teman-teman rena yg juga tidak kalah cantik, tapi lebih istimewa Rena tentu nya.dan akhir nya suatu kesempatan, dia datang sendiri ke tempat kami. Ketika dia baru duduk aku sapa,
?loh temen nya mana Rena?,
dia hanya menjawab,
?dah pada balik, pada mau les katanya?.
Lalu aku berbalik ke mejaku dan berusaha mencuri-curi untuk sekedar melihat lekuk tubuh nya dari balik monitor computerku.

15 menit sudah aku memandang nya, eh dia membalas pandangan ku,
aku kaget juga jangan-jangan dia marah, eh dia malah tersenyum.
Karena penasaran dia sedang apa aku mencoba melakukan remote anything ke computernya, yah kami biasanya menyebutnya dengan kata-kata SPY, gitu deh bahasa gaulnya.aku kaget juga setelah tau bahwa dia membuka situs-situs yg berhubungan dengan sex dan pornografi. Mukaku memerah, entah suka atau benci, tp yg jelas kaget sekali. Dengan nekat kucoba mendekati computernya, lalu kutanya dia,
?hayooooo Rena lagi buka apa?,
Karena tanpa persiapan dia langsung kelabakan seperti di anak ayam kehilangan induk nya dan dengan cepat dia menutup kolom situs-situs tersebut. Tapi dengan cepat aku menjawab,
?nga papa lah ama gue ini, nyantai aja lagi?.
Langsung saja muka dia memerah, entah malu atau takut.
lalu dia menjawab,
?emang nya tadi Roy liat Rena lagi buka apa??, tanyanya.
?liatlah, nga perlu ke sini juga Roy bias liat dari computer roy ?,
jawab ku sambil mengedipkan mata, lalu dia tertawa kecil dan tersenyum manis seperti gadis yg masih polos. Lalu dengan cepat aku tidak menyia nyiakan kesempatan ini aku langsung berkata,
?mau di temenin nga Rena biar Roy cariin situs2 yg lebih bermutu?.
Dia diam sejenak lalu menjawab,
?ya udah Roy duduk di sebelah Rena aja?,
katanya lembut penuh arti.
Waduh bakalan seru nih batin ku, untung aja temen-temen ku yg lain pada bermain basket di dekat situ, jadi semuanya lancar tanpa hambatan. Kami sempet ngobrol sejenak, dan dari situ ku ketahui bahwa dia anak pejabat di kota ini, dalam batin ku aku berkata wah ternyata anak pejabat neh.

Lalu mulai kucarikan dia situs situ porno yg belum pernah dia lihat,
kulihat raut muka nya berubah seperti cacing kepanasan tangannya tak bisa diam, aku lihat dia sangat terangsang dengan gambar-gambar dan video yg aku carikan lewat internet. Wah cepet honey dia batinku,
lalu tak kubiarkan dia hanya melihat saja, lalu aku berbisik,
?Ren dari pada liat, punya ku nganggur neh, kan sayang klo di diemin?, ia kaget kukira dia marah.
Eh ternyata dia malah lansung memegang senjataku yg dari tadi sudah on ketika aku duduk di sebelah nya, kontan saja aku kaget dan senang. Lalu dengan cepat aku juga merangsang dia dengan memegang payudara yg sangat indah itu dari belakang.
Untung warnet lagi sepi batinku dalam hati, aneh nya saat itu tak ada satupun pelanggan yg datang, yah mungkin di karenakan hujan yg cukup deras. Kulihat dia kurang puas memegang senjataku jika terhalang oleh celana pendek ku, lalu dia mencoba memelorotkan celana ku hingga batang kemaluan ku bisa dalam posisi enak untuk di kocok oleh tangan nya yg lembut itu.dan dia berkata,
?Roy punya kamu gede juga ya?,
Aku hanya terdiam.
Tanpa sadar aku sangat menikmatinya,
hingga aku hampir berteriak ?ah uchhhh ahhh terus Ren? lalu Rena dengan cepat menutup mulutku dengan ciuman bibir nya yg lembut dan sangat sensual itu. Wah untung sepi coba klo banyak orang tadi di sini bakalan berabe batin ku. Setelah dia puas dia mencium bibirku,
dia melanjut kan dengan menciumi kemaluan ku, sungguh luar biasa gadis anak pejabat yg masih polos ini melakukan hal-hal dalam sex yg sangat mengairahkan.

Aku di buat sangat puas oleh nya bahkan aku dibuat tak berdaya,
10 menit kemudian aku mengangkat kepalanya dan aku bisikan mesra di telinga nya, Ren gantian masak kamu terus yg muasin aku kamu kan belom puas, dia tersemyum pertanda iya. Langsung saja aku puaskan dia di antara sekat-sekat yg menjadi pembatas di antara computer computer di warnet ini. Dia kulihat sangat menikmati permainan ku,
aku mencoba sedikit membuka baju nya untuk melepas Bh nya.
Karena kami melakukan nya di tempat umum aku mencoba untuk menahan diriku untuk tidak mencoba menelanjanginya, sehingga aku tetap merangsang payudaranya di balik seragam sekolah nya, tanpa bisa melihat payudaranya yg berukuran 34 b itu. Dia terdengar mendesah lembut dan sangat sexy,
?ah ah..u ah..hhhhhh.ahhhhh? terdengar dari mulut nya.
Berkali kali ku pilin putting nya dia mengelinjang hebat sekali,dan merancau tidak karuan.
?ah uh. roy terus sayanggggg?royyy?ahhhhhh?.
Setelah merangsang buah dada nya aku langsung mencoba mengelus vagina nya dengan jari ku, karena dia memakai rok SMUsehingga tidak sulit untuk melakukan nya.Kurasakan vagina nya sudah sangat basah di karenakan rangsangan ku di buah dada nya tadi, bulu-bulu kemaluanya juga kuraba, wow sangat rapi batin ku. Aku berusaha tidak memasukan jari ku ke vagina nya karena dia masih perawan.
Kucoba merangsang dia lewat gesekan-gesekan lembut di tangan ku,
kurasakan badannya kejang dan keringat keluar dari seragam sekolah nya yg tanpa memakai Bh itu.
Dia berulang kali mendesah,
?Roy ampunnNn Roy sayang YUyy nikmatttTTttt????.
Padahal itu Baru kugesek dengan tangan bagaimana klo kumasukan senjataku ke dalam vagina nya batin ku.
Setelah 10 menit melakukan itu dia berteriak.
?ahhhhHH..hhhhh SSSshhhhhh?,
dan seketika itu juga dia mengalami orgasme pertamanya.
Kemudian dia terkulai lemas di pelukanku, sambil membelai dia aku membenarkan posisi celanaku dan dia juga mencoba membenarkan letak posisi seragam dan rok nya itu.
Lalu aku mengambilkan air minum untuk dia lalu berkata,
?yah gitu aja dah jebol gimana klo ML bisa-bisa Rena nga bisa bangun 2 hari gara-gara kehabisan stamina dong?. Candaku.
Lalu dia menjawab,
?eh enak aja kan tadi baru training, jadi ya butuh pelatihan dolo kayak tadi?.
Aku hanya tertawa kecil, eh malah dia langsung bilang Roy mau njarain Rena yang lebih expert lagi nga, klo mau abis ini aja kita pergi mau nga tanya nya. Sejenak aku berpikir tapi langkah langkah kaki datang menuju tempat itu dan kulihat wajah wajah teman-teman ku muncul, diantaranya Ronald, Jefry dan Rudi.
Langsung saja kusapa,

?abis basket kalian?,
dengan tersenyum Jefry hanya menjawab,
?dari pada ngurusin basket mendingan ngurusin Rena?.
Mereka pun semua tertawa dan kulihat Rena juga tersenyum nakal dan berusaha menunggu jawabanku. Lalu setelah teman-teman ke belakang aku bisikan ke telinga Rena ya udah tar gue ajarain yg lebih hot lagi ya, Rena tersenyum dan aku pergi berkemas untuk pergi bersama dengan rena.

Setelah itu kami pergi dengan meminjam mobil milik Ronald.
Dalam perjalanan aku bertanya,
?mau kemana ini Ren?,
dia menjawab.
?di rumah Rena aja kan Papa Mama sedang pergi ke Jakarta kak Adi sedang ke Jogja?,
aku kaget dan berkata,
?bener nih di rumah mu?,
?iya bener? katanya.
Setelah kami sampai di rumah nya aku kaget juga dengan rumah nya yg besar seperti istana itu wah gede banget rumah nya dan juga indah.
Setelah memarkir mobil ku aku di bimbing Rena untuk masuk ke rumah nya.Wah tampak nya dia terlihat tidak sabar.
Lalu aku menunggunya mandi sambil nonton tv dan menikmati hidangan yg sangat enak, kayak Raja nih batin ku.
Setelah dia selesai mandi, ia menghampiri ku hanya dengan memakai handuk yg dia balutkan di tubuh nya, ketika melihat nya,
tenggorokanku seperti tidak dapat menelan kue-kue yg tadi aku makan, dan dengan segera Rena mengambil jus jeruk yg ada di meja kamar nya lalu meminumnya, setelah itu mencium bibir ku dan mengalirkan jus jeruk yg telah dia minum tadi seolah-olah induk yg memberikan makan anak-anak nya.

Setelah itu dia membuka handuk nya yg tadi membungkus tubuh nya yg putih mulus dan sexy itu. wah payudara nya benar-benar luar biasa kencang dan besar, tak kusangka anak SMU kelas tiga sudah sematang, bulu-bulu halus yg ketika di warnet tadi aku pegang, aku bisa melihatnya dengan jelas. Sungguh pemandangan yg luar biasa.
Tanpa segan-segan lagi dia memintaku untuk men servicenya.
Dia berkata,
?ayo kok malah diem katanya mau ngajarin?,
ucapnya,
aku berkata kamu
?kamu cantik banget Ren tubuh mu juga sexy?.
Tanpa menunggu dia bicara langsung saja kubenamkan kepalaku di payudaranya itu dan mencoba untuk merangsang salah satu bagian sensitife itu, lalu dia mulai mendesah seperti tadi,
?ah OuchHhh uhhhhhh Ahhhhhh??..?,
dia sangat menikmatinya bahkan sesekali dia menjambak rambut ku,
kulihat payudaranya sangat kencang dan kenyal sekali sesekali aku meremas-remas nya dan aku pun juga sangat menikmatinya, payudara yg indah. Lalu kuteruskan dengan menciumi bagian kewanitaan nya,
dia terlihat memejamkan mata sangat menikmatinya, dan dia meremas remas payudaranya sendiri mencoba merangsang tubuh nya sebaik mungkin. ketika clitoris nya ku hisap-hisap dia sangat kewalahan dan berteriak-teriak,
?roy aduhh Enak ah ouchhhh ahhhHh uhh?.
5 menit kemudian, giliran dia merangsang diriku.kulihat dia mengocok penisku dengan lembut dan menghisapnya bagaikan permen lollipop yg sangat manis,
?ohh ahhhhhhh hahhhh?,
aku sangat menikmatinya, dia menjilati batang kemaluan dan tidak ketinggalan buah zakar ku juga ikut dia hisap.
Aku sudah tak bias berkata apa apa lagi selain menikmati permainanya. Ketika aku hampir memuntahkan laharku aku mencoba melepaskan senjataku dari hisapan nya dan gengamannya, lalu kubaringkan dia diranjangnya dan aku berbicara mesra,
?tahan ya sayang, pertama-tama sakit tp nanti juga enak kok?,
kataku. Dia mengangguk pertanda iya. Kucoba membobol vagina nya ternyata sangat sulit, pada usaha pertama melesat dan setelah ku
oleskan kream di vaginanya, pada usaha ketiga aku berhasil memasukan separo penis ku ke dalam kemaluannya.
Dia menjerit kesakitan,
?Royy sakitT Royyyyyy ampunnNnNnnnnn?,
jerit nya, tapi aku tetap melakukannya dan bless seluruh batang kemaluan ku sekarang berada di dalam nya bersamaan dengan percak-percak darah keperawanannya.
Kubiarkan diam sejenak supaya vaginanya terbiasa menerima kehadiran benda asing itu, setelah kurasakan vaginanya bisa menerima penisku, kucoba menarik maju mundur.
Jeritan sakit yg tadi dia ucapkan berganti dengan desahan-desahan wanita yg sedang mengalami persetubuhan yg sangat nikmat.dan tidak henti-henti nya dia selalu mendesah dan setengah berteriak.
?ah terus Roy Sayang kocok terus bikin Rena puas ah ouchhhhh shhhhh terus kocok jangan berhenti sayangggg? ?,
rancau nya, aku juga sangat menikmati denyutan-denyutan di dalam vaginanya itu, gerakan menghisap yg sangat nikmat sekali di alami oleh penis ku kemudian aku membalikan posisinya supaya kami bisa melakukan doggy style.
Lalu ku suruh dia berdiri dan bersandar di depan kaca meja rias nya dan kumasukan senjataku dari belakang sehingga aku bisa menikmati keindahan tubuh nya dan payudaranya serta paras cantik wajahnya dari kaca tersebut.
15 menit kejadian itu berlangsung ku dengar dia berteriak,
?ahhhh roy aku keluarrrrrrrrrrr??.?,
oh tampak nya dia baru saja mendapatkan orgasme pertamanya.
Kucabut penisku dari dalam vaginanya dan membiarkan Rena istirahat sebentar.

Setelah cukup istirahat.dia mengajakku untuk melanjutkan nya di kamar mandinya yg seperti kolam renang itu karena sangat luas.
Kontan saja Karena terburu nafsu aku langsung tancap gas dan segera memasukan penis ku ke dalam vagina nya yg merah merekah itu.
aku sangat menikmati guyuran shower yg membasahi tubuh kami,seolah-olah membasahi jiwa yg kekeringan akan kehausan sex.
Rena terus merancau dan akhirnya aku sangat merasakan kenikmatan yg luar biasa, penis ku yg dari tadi di sedot kurasakan sangat membengkak dan mencapai klimaks sampai ubun-ubun rasanya,
aku berteriak,
?Rena aku mauuuuuuu keeee luuu arrrrrrrrrrrrrrrrrr mauuu diii kelluariinnn dii mannna.jeritku menahan nikmat?,
dia sambil ngos-ngosan bilang
?di dalam ajjjaaaaa?,
lalu aku berkata,
? nga papa rennn?,
rena menjawab,
?laggiii masaaaaaa tiiiidakkk suburrrrrr?,
dan rena juga tampak merancau lagi dan berteriak,
?yaaaa uuu daaa hhhhh kii taaa ssssaaammaa saaammaaaaaaaaaaaaaaaa?.
Aku tak dapat menahan lagi dan jebolah pertahananku kusemburkan maniku di dalam vaginanya dia juga tampak mencapai orgasme keduanya.
Setelah itu dia masih menjilati kemaluanku dan membersihkan sisa-sisa
maniku, lalu kami mandi bersama.
Setelah selesai aku pamit pulang, aku pamit dengan mengecup kening Rena dan berkata pelajaran nya udah cukup kan, dia hanya tersenyum dengan lembut sungguh seperti gadis yg sangat polos dan berkata ,
?Roy besok kesini ya ajak Ronald, Jefry ama Rudi, jangan lupa loh ?.
Aku cukup bingung kok ngajak yg lain segala ya batin ku.

Lalu selepas jam 6 malam esok nya kami ber 4 berkunjung ke rumah rena. Betapa kaget nya kami ketika di sana kami di sambut dengan mesra oleh keempat gadis yg sangat cantik di antaranya Karina,
Monica, Cindy dan Rena tentunya, lalu tanpa basa-basi lagi mereka berkata.
?wah wah kak roy jahat kok kita kita kemaren nga di ajak sech yg di ajak cumin Rena aja,nga suka ya ma kita kita ?,
kontan saja aku sendiri kaget.
Dan teman temanku juga ikutan binggung,
lalu tanpa rasa malu rena
?menjawab roy kemaren ma aku ML loh?.
Aku kaget kenapa dia membuka rahasiaku tapi sebelum aku sempat bicara rena menjawab
?jadi hari ini Ronald, Jefry ama Rudi ngajarin Karina , Monica and Cindy, terus Rena tentunya ama roy dong?,
katanya.
Tentu saja teman- teman ku nga jadi marah malah jadi senang, alu aku berkata dalam hati wah rejeki mereka juga neh. Lalu kami pergi ke daerah Kaliurang dah menyewa sebuah villa di sana dan melewati hari dan malam penuh akan nafsu, gairah dan kehausan akan sex.

Dan sampai sekarang jika ada waktu kami masih melakukan nya baik di kamar mandi warnetku, di rumah Rena, di hotel atau villa.
Bahkan sekarang banyak pelanggan wanita ku menjadi kekasih ku hanya untuk semalam/one night stand.begitu juga dengan teman-teman ku Ronald, Jefry dan Rudi mereka juga kalang kabut menerima order dari para wanita yg kesepian. Tapi atas dasar suka sama suka, maaf kami bukan Gigolo.
Sekian kisah ku lain kali aku lanjut kan dengan kisah ku dengan para pelanggan net ku , wilda, ima, susy dan masih banyak lagi, baik itu pengalaman sex party ataupun one on one
buat para cewek yg kesepian, silahkan hubungin aku lewat email ku aja pasti aku bantu jalan pemecahannya.

Nafsu birahi gadis2 pecinta alam

Namaku Son, mahasiswa semester III, tinggiku 168 cm dan berat 58 kg.

Kejadian ini terjadi pada waktu aku melakukan pendakian gunung Lawu bersama teman-temanku. Lokasiku saat itu berada dekat base camp pertama kearah pendakian gunung Lawu. Aku sedang beristirahat sendirian disini. Tadi malam aku bersama teman-temanku 5 orang sudah melakukan pendakian menuju puncak Lawu dan telah berhasil mencapai puncak Lawu jam 6 pagi tadi.

Sekarang dalam perjalanan pulang, sementara teman-temanku sudah pada turun gunung semua. Kuputuskan untuk beristirahat sebentar di base camp pertama ini sambil mendirikan tenda, biar nanti agak sorean aku turun sendiri menuju pos kami yang dekat dengan rumah penduduk sekitar gunung Lawu ini.

Sore itu pukul 15.10 WIB, aku baru saja selesai menyeduh kopi instanku, ketika tiba-tiba dari arah semak belukar arah barat muncul 2 orang cewek dengan baju dan kondisi acak-acakan.

”Halo Mas?” sapa salah satu cewek itu padaku.

Cewek yang kutaksir berusia 18 tahun kelihatannya anak SMA, rambutnya pendek seperti aktris Agnes Monica. Sedangkan temannya yang satu berambut panjang sebahu mirip-mirip bintang sinetron Bunga lestari.

”Halo juga” jawabku menyembunyikan kekagetanku karena munculnya yang tiba-tiba, sempat terpikir ada setan atau penunggu gunung ini yang mau menggodaku.
”Loh, dari mana, kok berduaan aja?” tanyaku coba berbasa-basi.
”Iya, kita tadi misah dari rombongan, terus nyasar..” jawab cewek itu sambil duduk di depanku.
”Boleh minta minum gak? Kita haus sekali, sudah 5 jam kita jalan muter-muter gak ketemu jalan sama orang” lanjutnya kemudian.

Aneh juga pikirku, padahal perasaanku dari tadi pagi, sering sekali aku berpapasan dengan orang-orang atau rombongan pecinta alam.

”Ada juga air putih, tuh di botol atau mau kopi, sekalian aku buatin?” jawabku.

Cewek yang berbicara denganku tadi ini tidak menjawab pertanyaanku, tapi langsung menghampiri botol minum yang kutunjukan dan segera meminumnya dengan terburu-buru, sedangkan temannya yang satu lagi hanya memperhatikan dan kemudian meminta botol minumku dengan santun.

Kuperhatikan saja tingkah mereka, cewek-cewek muda ini cakep juga khas ABG kota, tapi saat itu mukanya kotor oleh debu dan keringat, kaosnya cuma ditutupi jaket kain, celana jeans dan sepatu olah raga warna hitam, ini sih mau piknik bukan mau naik gunung, abis gak bawa bekal atau peralatan sama sekali.

Mereka minum terus sampai puas kemudian tiduran disamping kompor parafin yang sedang kugunakan untuk memasak air.

”Mas namanya siapa?” tanya cewek yang berambut pendek.
”Namaku Adek sedangkan ini temenku Lina” katanya lagi.
”Namaku Son” jawabku pendek sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
”Ada makanan gak, Mas? Adek laper banget nih..” tanya Adek tanpa basa basi kepadaku yang sedang memperhatikannya.
”Ada juga mie kalo mau, sekalian aja masak mumpung airnya mendidih” jawabku.

Ternyata Adek tidak mau masak sendiri, dia terus berbaring dan minta tolong padaku untuk dimasakin mie.

”Wah kamu ini manja banget ya? Kenal aja barusan tapi udah nyuruh-nyuruh?” godaku pada Adek.
”Tolong deh Mas.. Adek capek banget” “Nanti gantian deh..” rayu Adek padaku.
”Gantian apa ya? Emang nanti kamu mau masak mie lagi? Bayarnya pake pijet aja ya?” godaku lebih lanjut.
”Maunya tuh.. tapi bereslah..” jawab Adek cuek sambil memejamkan matanya.

Kuperhatikan Lina, tapi dia ternyata diam saja, dan hanya mengangguk kecil ketika kutawarkan mie. Sementara aku masak mie instan, Adek kemudian bercerita kisahnya sampai dia dan Lina tersesat berduaan di tengah gunung Lawu ini. Adek berangkat bersama serombongan pecinta alam SMAnya jam 10 siang tadi. Rencananya malam nanti Adek dan rombongan akan mendaki gunung Lawu, tapi waktu menuju base camp kedua, perut Lina sakit, sehingga Adek menemani Lina mencari tempat untuk buang hajat, tetapi setelah selesai ternyata mereka tertinggal dan terpisah dari rombongan.

Setelah mienya siap segera saja pancinya kuberikan pada mereka untuk segera disantap. mMsih saja Adek protes kok tidak ada piringnya.

”Emangnya ini di warung” kataku cuek sambil tersenyum kearah Lina.

Lina hanya tersenyum tipis dengan bibir gemetar.

”kamu sakit ya Lin?” tanyaku.
”Nggak Mas hanya kedinginan” katanya pelan.
”Butuh kehangatan tuh Mas Son” potong Adek sekenanya.

Wah kaget juga aku mendengar celoteh Adek yang terkesan berani. Kuperhatikan keadaan sekitar yang sudah mulai berkabut dan langit gelap sekali. Waduh jangan-jangan sudah mau hujan. Segera saja kubereskan peralatanku.

”Masih pada kuat jalan nggak?” tanyaku pada 2 orang cewek ini.
”Nanti kalau disini hujan, bisa basah semua.. Mending kalo masih bisa jalan kita cepat turun agar nggak kehujanan” lanjutku.

Baru saja selesai aku bicara, tiba-tiba ada kilatan petir disusul dengan suaranya yang keras.

”Duer!!”

Disusul dengan tiupan angin yang kencang membawa rintik-rintik air hujan.

”Nah lo.. benerkan, telat deh kalo kita mau nekat turun sekarang” kataku sambil mematikan kompor parafinku.
”Ya udah, cepet masuk tenda sana, cuaca lagi nggak bersahabat nih, bakal hujan deres disini!” perintahku sambil membereskan peralatanku yang lain karena hujan sudah mulai turun.

Aku, Adek, dan Lina segera berdesak-desakan di dalam tenda kecil parasut, sementara hujan semakin deras disertai bunyi angin yang keras, segera aku memasang lampu kemah kecil yang biasa kubawa kalau aku naik gunung. Lumayanlah cahayanya cukup untuk menerangi di dalam tenda ini. Sementara kurasa hari menjelang maghrib, dan hujan masih saja turun walau tidak deras.

Adek dan Lina duduk meringkuk berdampingan dihadapanku sambil tangannya mendekap kaki.

”Kamu masuk aja ke sleeping bag itu, kelihatannya kok kamu kedinginan sekali” saranku pada Lina yang mulai menggigil kedinginan.
”Tapi copot sepatunya” lanjutku kemudian.

Lina diam saja, tapi menuruti saranku. Akhirnya Adek dan Lina tiduran berhimpitan di dalam sleeping bag sambil berpelukan.
Kuperhatikan saja tingkah mereka berdua,

”Hei kalian pada ngomong dong, jangan diem aja. Jadi serem nih suasananya” ucapku pada Adek dan Lina.
”Mas Son gak kedinginan..” tanya Lina tiba-tiba.
”Ya dingin to, siapa juga yang nggak kedinginan di cuaca seperti ini?” jawabku apa adanya.
”Kalian enak berduan bisa berpelukan gitu.. gak adil” kataku mencoba bercanda.
”Ya Mas Son sini to, kita berpelukan bertiga” kata Adek pendek, tak ada nada bercanda dalam nada omongannya.

”Waduh, gak salah denger nih?” pikirku.

Tak akan ada kesempatan kedua kalau hal ini kutanyakan lagi.

”Ya udah, kalian geser dong. aku mau di tengah biar hangat” kataku cuek sambil membuka resleting sleeping bagku.

Tidak sempat kuperhatikan ekspresi Lina atau Adek karena keadaannya yang remang-remang. Aku merebahkan diri diantara dua cewek yang baru kukenal ini, tak ada kata-kata atau komentar apapun, kulingkarkan kedua tanganku kepada Adek di sebelah kiri dan Lina disebelah kanan. Walau awalnya aku merasa canggung tapi setelah kunikmati dan merasakan dua tubuh hangat mendekapku dan akupun merasa nyaman sekali. Kepala Adek dan Lina bersamaan rebah di dadaku. Kurasakan deru nafas yang memburu dari keduanya dan dariku juga.

”Badan Mas Son hangat ya Lin?” kata Adek pelan seraya tangannya melingkar kebawah dadaku dan kakinya naik menimpa kakiku, barangkali Adek lagi membayangkan aku seperti gulingnya kalau dia pas lagi mau tidur.
”Iya tadi Lin takut sekali, sekarang dipeluk sama Mas Son, Lin jadi nggak takut lagi” jawab Lina pelan sambil mengusap kepalanya di dadaku.

Samar-samar tercium bau wangi dari rambutnya. Kemudian darahku terasa terkesiap saat lutut Adek entah disengaja atau tidak menyenggol burungku.

”Ehm..” aku hanya bisa berdehem kecil ketika kurasa hal itu ternyata mendorong birahiku naik.

Waduh, pikiranku langsung ngeres, rugi juga ya kalau kesempatan selangka seperti ini kusia-siakan, minimal harus ngelaba sesuatu nih..
Iseng-iseng tangan kiriku yang masih leluasa kuberanikan memeluk tubuh Adek mulai meraba-raba kebagian daerah buah dada Adek.

”Ehm..” Adek ternyata hanya berdehem pelan.

Akupun mulai berani meningkatkan aksiku lebih lanjut, aku mencoba meremas lembut susunya. Ternyata Adek hanya diam, dia hanya mendongakkan mukanya menatapku, sambil tangannya juga meraba-raba dan mengelus-elus dadaku. Kucoba mencium rambutnya lalu kukecup kening Adek, sementara tanganku terus meremas-remas susunya dengan tempo agak cepat.

”Aah.. Mas Son” suara Adek terdengar lirih.
”Ada apa Dek?” tanyaku pelan melihat Lina sudah mulai curiga dengan aktivitas yang kulakukan.
”Kamu masih kedinginan ya?” kataku lagi sambil menggeser tubuhnya agar lebih naik lagi.

Sementara tanganku jadi lebih leluasa menelusup ke dalam balik jaketnya dan membuka pengait BHnya yang masih tertutup dengan kaos luarnya. Adek hanya diam saja saat kulakukan hal itu, bahkan saat tanganku sudah sempurna merengkuh susunya dibalik BHnya. Dia menggigit kecil dadaku.

”Ah.. Mas Son..” katanya parau dengan tidak memperdulikan ekspresi Lina yang kebingungan.

Saat kupermainkan puting susunya, tiba-tiba Adek bangkit.

”Mas Son, Adek ma.. masih kedinginan” kata Adek dengan bergetar sambil menghadapkan mukanya ke wajahku sehingga jarak muka kami begitu dekat.

Kurasakan nafasnya memburu mengenai wajahku. Aku hanya bisa diam tercekat ketika Adek mulai menciumi mukaku dengan tidak beraturan, mungkin karena gelap hampir semuanya kena diciumnya. Kurasakan lagi kaki Adek sudah melakukan gerakan yang teratur menggesek-gesek ******ku naik dan turun. Tanpa sadar akupun membalas ciuman Adek, hingga akhirnya bibir kami bertaut. Dengan penuh nafsu Adek mengulum bibirku sambil lidahnya terjulur keluar mencari lidahku. Setelah didapatnya lidahku, dihisapnya dengan kuat sehingga aku sulit bernafas.

”Gila nih, cewek ABG sudah pintar french kiss” ucapku dalam hati.

Tanpa sadar tangan kananku mencengkram pundak Lina.

”Mas sakit Mas pundak Lina” kata Lina tiba-tiba yang menghentikan aktivitasku dengan Adek.
”Oh maaf Lin” jawabku dengan terkejut.

Kuperhatikan ekspresi Lina yang bengong melihatku dengan Adek. Tapi rasa tidak enakku segera hilang karena ternyata Adek tidak menghentikan aktivitasnya, dia tampaknya cuek aja dengan Lina, seakan menganggap Lina tidak ada. Adek terus menciumi telinga dan leherku.

”Mas Son, Adek jadi pengen.. Adek jadi BT, birahi tinggi” kata Adek lirih di telingaku sambil tangannya sudah bergerilya mengusap-usap ******ku yang masih tertutup rapat oleh celana jeansku.

”Waduh.. bagaimana ini” pikirku dalam hati.

Pikiranku serasa buntu. Kupandangi wajah Lina yang kaku melihat polah tingkah Adek yang terus mencumbuku. Lina pun bangkit dari rebahannya sambil beringsut menjauh dari badanku. Tak sempat ku berkata lagi, Adek yang sudah birahi tinggi tanpa ampun menyerangku dengan ganasnya, dicumbunya seluruh wajah dan leherku, malah kini posisinya menaiki tubuhku dan berusaha membuka bajuku.

Aku yakin walau suasananya remang-remang, Lina pasti melihat jelas semua aktivitas kami, bahkan dengan kaos dan BH Adek yang sudah tersingkap keatas dan tanganku yang sedang meremas-remas susu Adek, sekarang jelas terpampang di depan mata Lina. Kepalang tanggung, segera saja kurengkuh tubuh kecil Adek dan kuhisap puting payudaranya yang kecil dan berwarna merah kecoklatan itu secara bergantian dengan posisi adek diatas tubuhku. Pentil itu tampak sudah tegak mengacung karena pemiliknya sudah dilanda nafsu birahi yang sangat tinggi.

”Ah.. ah.. Mas Son..” gumam Adek lirih.
”Enak Mas, terus.. jangan dijilat terus, tapi disedot.. aah..” lanjutnya.

Aktivitas ini kuteruskan dengan mengelus dan meraba pantat Adek yang sejajar dengan ******ku. Kuremas pantat Adek sambil menggesek-gesekan ******ku pada daerah kemaluan Adek yang masih terbungkus dengan celana jeans yang dikenakannya. Kujilati semua yang ada di dada Adek, bahkan kugigit kecil puting mancung itu yang membuat Adek melenguh panjang.

”Aaahh.. sshh..”

Aksiku ternyata membuat Adek blingsatan, dikulumnya bibirku dan diteruskan ke leherku sambil berusaha membuka semua bajuku, nampaknya Adek mau balas dendam melancarkan aksi yang sama dengan yang kulakukan tadi.

Benar saja, begitu bajuku terbuka semua, Adek segera menghisap putingku dan menggigit-gigit putingku dengan ganas. Kurasakan sensasi yang luar biasa yang membuat ******ku semakin tersiksa karena tidak bisa bangun terhalang oleh celana jeansku. Saat itu bisa kuperhatikan Lina di samping kiriku yang sedang menatap nanar aktivitas kami, kulihat tangan kanannya dijepitkan pada dua belah pahanya, entah sedang terangsang atau sedang kedinginan.

Tanpa kata, kuberanikan tangan kananku mengelus paha Lina sambil berusaha meraih tangan Lina. Lina hanya diam saja, bahkan semakin terpaku saat melihat aksi Adek yang terus mencumbu bagian bawah pusarku. Aku yang merasa sangat geli hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku ke kiri dan ke kanan.

”Aah.. Dek, jangan dijilat di daerah situ terus.. ge..li se..ka..li..” ujarku dengan nafas tersengal.

Tanpa sadar aku sudah meremas tangan Lina dan Linapun kurasa juga membalas remasan tanganku. Tapi kejadian demi kejadian berlangsung begitu cepat, Adek seolah sudah tidak peduli lagi, dia langsung membuka ikat pinggangku diteruskan dengan membuka resleting celana jeansku. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku saat itu, keperhatikan tingkah Adek sambil tanganku tetap memegang tangan Lina.

Saat resleting celanaku sudah terbuka, Adek meraih ******ku yang masih terbungkus celana dalamku, lalu dielusnya sebentar kemudian ditariknya sampai selutut celana jeansku berikut celana dalamku juga. Tanpa banyak kata, Adek hanya memperhatikan sebentar ******ku kemudian mencium dan menjilat permukaan ******ku.

”Aah..” aku hanya bisa mengeluarkan kata itu saat Adek mulai mengulum ******ku dan mengisapnya.
”Aargh .. Dek, enak sekali Dek” erangku.

”Gila nih anak, baru SMA sudah selihai ini, aku tak habis pikir” gumamku dalam hati.

Saat Adek masih asik berkaraoke dengan ******ku, kulihat sekilas ke Lina, ternyata dia sedang memperhatikanku dengan pandangan yang tidak kumengerti artinya. Kemudian seperti ada dorongan lain kutarik tangan Lina sehingga tubuhnya rebahan lagi disampingku.

”Lin, aku ingin cium bibir kamu” bisikku perlahan di telinga Lina.

Saat itu Lina diam saja sambil tetap menatapku. Kutarik wajahnya mendekat dengan wajahku dan segera kulumat bibir Lina yang mungil itu.

”Eemh ..” suara yang terdengar dari mulut Lina.

Tak ada perlawanan yang berarti dari Lina, Lina diam saja tak membalas ciumanku, entah karena pasrah atau tidak tahu caranya berciuman. Kurasakan getaran birahi yang luar biasa saat ******ku terus dipermainkan oleh Adek sementara konsentrasiku terarah pada Lina yang pasrah. Segera saja aku menciumi dada Lina yang masih terbungkus oleh bajunya sementara tanganku yang satu mengelus-elus selangkangan Lina.

”Aah.. ah..” Lina mulai bereaksi panas saat kusibak bajunya sehingga aku bisa menjilati permukaan susu yang masih tertutup oleh BHnya yang berwarna pink.
”Ya diajari tuh Lina, Mas Son.. sudah gede tapi belum bisa bercinta” kata Adek tiba-tiba.

Kaget juga aku mendengar teguran itu, kuperhatikan Adek tenyata dia sudah tidak menghisap ******ku lagi, tapi sedang membuka celana jeans lalu celana dalamnya sendiri.

”Adek masukkin ya Mas” kata Adek pelan tanpa menunggu persetujuanku sambil mengarahkan ******ku ke lubang kawinnya yang tampak olehku disuburi bebuluan jembut keriting.

Pelan tapi pasti Adek membimbing ******ku untuk masuk penuh ke dalam tempiknya. Kurasakan rasa hangat menjalar dari ******ku ke seluruh tubuhku. Tempik Adek yang sudah basah oleh lendir pelumasnya memudahkan ******ku masuk ke dalamnya.

”Ah.. burung Mas Son gede.. terasa penuh di tempik Adek” katanya mendesis sambil menggoyangkan pantatnya dan memompanya naik turun.
”Ah.. ash.. ah.. enak sekali Mas Son” kata Adek parau sambil mencumbu dadaku lagi.

Aku yang menerima perlakuan demikian tentu saja tidak terima, kuangkat badan Adek dan mendekatkan teteknya ke mulutku sambil terus memompa dari bawah mengimbangi goyangan Adek.

”Huuf.. uh..uh.. aah.. terus Mas” erang Adek memelas.

Kujilati terus dan mengisap puting Adek bergantian kiri dan kanan, sementara Adek menerima perlakuanku seperti kesetanan.

”Ayo Mas.. Son.. terus.. ayo .. teruuss.. Adek mau dapet ni..” katanya bernafsu.

Tak beberapa lama kemudian, dengan kasar Adek mencium dan mengulum bibirku.

”Eeemhp.. aaah..”

Dan kemudian Adek terkulai lemas di dadaku, sementara aku yang masih memompa dari bawah hanya didiamkan Adek tanpa perlawanan lagi.

”Aaa.. berhenti dulu Mas Son, istirahat sebentar, Adek sudah dapat Mas Son” kata Adek lirih mendekapku dengan posisinya masih di atasku dan ******ku masih di dalam liang senggamanyanya.

Kurasakan detak jantung Adek yang bergemuruh di dadaku dan nafasnya yang ngos-ngosan mengenai leherku.

”Makasih ya Mas Son, enak sekali rasanya” kata Adek pelan.

Aku yang belum mendapatkan orgasme, hanya bisa melirik ke arah Lina yang saat itu ada di sampingku, ternyata tangannya sedang meremas-remas teteknya sendiri dibalik BH berendanya yang sudah terbuka. Segera saja kutarik Lina mendekatiku dan menyuruhnya agar ia berposisi push up mendekatkan teteknya kemulutku.

”Aah .. Mas Son..” kata Lina pelan saat tetek kanannya kuhisap.

Saat itu Adek bangkit dari posisi semula dan mencabut tempiknya dari ******ku, kemudian berbaring di sisi kiriku sambil merapikan kaosnya. Aku yang kini leluasa berusaha bangkit sambil mencopot celana jeansku yang masih menempel di lututku. Kuterus meremas-remas tetek Lina sambil mengulum bibir Lina yang kini posisinya berbaring di bawahku. Berbeda dengan yang tadi, kini Lina mulai agresif membalas kulumanku bahkan bibirnya menjulur-julur minta diisap.

Kubimbing tangan Lina untuk memegang ******ku yang masih tegang dan basah karena cairan kawin dari tempik Adek. Semula seakan ragu, tapi kini Lina mengenggam erat ******ku dan seperti sudah alami Lina mengocok ******ku waktu lidahku bermain di bawah telinganya dan lehernya.

”Aah .. Mas Son.. geli ..” hanya itu komentar dari bibir Lina yang seksi itu.

Perlahan lidahku mulai bermain di seluruh dada Lina, dari leher sampai gundukan teteknya kujilati semua, dan kugigit kecil pentil susu Lina yang berwarna kemerahan dan sudah tampak tegang itu.

”Aargh.. aah ..” Lina mulai menggelinjang.

Lina diam saja waktu kubuka ikat pinggangnya dan kubuka kancing celana jeansnya. Kuperhatikan Lina masih memejamkan matanya dan melenguh terus saat kucumbu bagian pentilnya, sementara tangan kanannya tetap menggenggam erat ******ku, dan tangan kirinya menekan-nekan kepalaku, sesekali menjambak rambutku. Kemudian tanganku menelusup ke dalam balik celana dalam Lina waktu kancing celana jeans Lina sudah terbuka, kurasakan sambutan hangat bulu-bulu jembut yang masih jarang diatas tempiknya. Kuelus-elus sebentar permukaan liang kawinnya, lalu jari-jariku tak ketinggalan bermain menekan-nekan tempiknya yang sudah basah oleh lendir kawinnya.

”Ah.. Mas.. Son .. aah” suara Lina semakin terdengar parau.

Aku segera mengalihkan cumbuan ke daerah perut Lina dan menurun menuju tempiknya. Kubuka celana dalam berenda yang juga berwarna pink itu tanpa melihat reaksi Lina dan segera menciumi permukaan tempik Lina yang masih ditumbuhi bulu-bulu jembut halus yang jarang-jarang.

”Ah.. jangan Mas Son .. ah..” kata Lina mendesis.

Tentu saja kubiarkan sikap yang menolak tapi mau itu. Lidahku sudah mencapai permukaan tempiknya lalu kujilati yang segera membuatnya menggelinjang dan dengan mudah aku menurunkan celana jeansnya sampai sebatas pahanya. Kujilati terus tempik Lina sampai kedalam-dalam sehingga pertahanan Lina akhirnya jebol juga, pahanya semula yang mengapit kepalaku mulai mengendur dan mulai terbuka mengangkang, sehingga akupun leluasa mencopot seluruh celana jeans dan celana dalamnya.

”Aah .. argh ..” desis Lina pelan.

Posisiku saat itu dengan Lina seperti posisi 69, walau Lina tidak mengoral ******ku aku tidak peduli tetap menjilati tempiknya dengan ganas dan tanpa ampun.

”Aah.. Mas .. truss.. ahhh .. enaak.. Mas .. aah ..” teriak Lina tidak jelas, sampai akhirnya pahanya menjepit erat kepalaku dan ******ku terasa sakit digenggam erat oleh Lina.
”Aaah.. Mas ..” teriakan terakhir Lina bersamaan dengan sedikit cairan birahi yang menyemprot dari dalam tempiknya kedalam mulutku.

Rupanya Lina sudah mendapat orgasme pertamanya walau dengan lidahku.

”Aah.. enak sekali.. Mas Son .. sudah ya Mas Son..” kata Lina pelan sambil tergolek lemah dan pasrah.

Akupun menghentikan aktivitasku dan mengambil nafas dulu karena mulutku jadi pegal-pegal kelamaan asyik mengoral tempiknya. Aku berbaring di tengah dua cewek ini dengan posisi yang terbalik dengan mereka, kepalaku berada diantara kaki-kaki mereka.
Baru sebentar aku mengambil nafas, kurasakan ******ku sudah ada yang memegang lagi.

”Mas main sama Adek lagi ya? Adek jadi nafsu ngeliat Mas Son main sama Lina” kata Adek tiba-tiba yang sudah bangkit dan kini tangannya sedang memegang ******ku.

Aku tak sempat menjawab karena Adek sudah mengulum ******ku lagi, bahkan kini pantatnya beralih ke wajahku, menyorongkan tempiknya kemulutku untuk minta dioral juga seperti tadi aku dengan Lina. Posisiku dengan Adek kini 69 betulan tapi dengan posisiku yang di bawah. Kujilati tempik Adek dengan lidah yang menusuk-nusuk kedalamnya.

”Eeemph .. emmph ..” Adek tak bisa mendesah bebas karena mulutnya penuh dengan ******ku.

Lama kami bermain dengan posisi itu, sampai akhirnya kuhentikan karena aku tidak tahan dengan isapan Adek yang luar biasa itu dan kalau dibiarkan terus akibatnya ******ku bisa muntah-muntah di dalam mulut Adek. Aku bimbing agar Adek berbaring di samping Lina sedangkan aku di atasnya mulai mencumbu lagi dari teteknya dengan menggesek-gesekan ******ku ke permukaan tempiknya yang dipenuhi oleh bulu-bulu jembut yang berwarna hitam pekat itu. Adek seperti mengerti, kemudian membimbing ******ku untuk masuk ke dalam lubang kawinnya. Akupun bangkit sambil mengarahkan ******ku siap untuk menghujam lubang senggama Adek. Pelan tapi pasti kumasukan ******ku mulai dari kepala hingga semuanya masuk ke dalam tempiknya.

”Aaah .. Mas Son ..” desis Adek sambil menggoyang pantatnya.

Kurasakan seret sekali tempiknya, beda sekali dengan yang tadi gesekan itu terasa nikmat menjalar di setiap centi dari ******ku dengan sesekali terasa denyutan pelan dari liang kemaluannya.

”Mas yang keras dong goyangnya.. terasa sekali mentok” kata Adek sambil melingkarkan tangannya ke leherku.

Akupun jadi semangat memompa tubuh ranum yang mungil ini. Di udara dingin seperti ini terasa hangat tapi tidak berkeringat.

”Aah.. ah.. terus Mas .. terusss.. ah.. ah ..” lanjutnya keenakan.

Mungkin sekitar 5 menit aku menggoyang Adek, sampai kemudian aku tidak tahan melihat teteknya yang bergoyang indah dengan puting kecil menantang. Akupun mengulum puting Adek sambil meremas-remasnya dengan gemas, sementara pompaan ******ku telah diimbangi goyangan Adek yang bisa kupastikan goyangan ngebor ala Inul tidak ada apa-apanya.

”Ma.. Mas .. Adek mau dapet laggii.. bareeng yaa.. ah.. ah..” desis Adek histeris.

Aku jadi terangsang sekali mendengar lenguhan Adek yang merangsang itu, kuteruskan aksiku dengan menjilat dan mencium dada, ketiak, leher, telinga dan pipi Adek.

”Aaarg ..” erangnya keras.

Adek mengulum bibirku sambil memejamkan matanya. Nampaknya Adek telah mendapat orgasmenya yang kedua, sementara tubuhnya menegang sebentar dan kemudian melemas walau aku masih memompanya. Aku segera mencabut ******ku dan mengocoknya sebentar untuk menumpahkan pejuku ke perut Adek.

”Crut.. crut..”

Pejuku keluar banyak membasahi perut Adek dan mengenai teteknya.

”Aaah..” akupun melenguh puas saat hasratku telah tersalurkan.

Adek mengusap-usap pejuku di perutnya kemudian membersihkan dengan tisu yang diambil dari celananya, sedangkan Lina mendekat dan melihat aksi Adek, kemudian membantu membersihkan pejuku.

”Baunya seperti santan ya?” komentar Lina sambil mencium tisunya yang penuh dengan pejuku.
”Ya udah. Semua dibereskan dulu” kataku memberi perintah kepada dua cewek yang baru saja bermain cinta denganku ini.
”Kita istirahat dulu ya sambil tiduran, nanti kalo sudah nggak hujan kita putuskan mau turun ke bawah atau bermalam disini ya” lanjutku kemudian.

Akhirnya akupun tertidur kelelahan dengan dua cewek yang mendekapku. Entah mimpi apa aku semalam bisa terjebak dalam situasi seperti ini.